Setelah mencoba ikhlas menerima kenyataan bahwa janin dalam kandunganku tidak memungkinkan lagi untuk dipertahankan, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menyetujui tindakan kuretase kepada saya. Sungguh, kehamilan pertama ini jadi ujian lahir dan batin terberat yang pernah saya lalui. Kebahagiaan akan memiliki momongan, kini berganti jadi kengerian diruang persalinan.

Hari ini, setelah menginap satu malam guna mempersiapkan diri jelang tindakan kuretase, dan menunggu kedatangan suamiku dari Jakarta ke Bangka, saya diopname dan mulai dipasang infus kepergelangan tangan saya. Meskipun sering wara-wiri di RS dan berkali-kali melihat infus, tetap saja rasa tegang dan gugup dirasakan ketika jarum infus itu ditancapkan. Dalam hati saya berfikir, ini baru infus bagaimana sakitnya dikuret? Maklum, saya sudah melihat foto proses kuretase di google.com sehingga bayangan seram itu silih berganti berseliweran dipikiran saya.

Keesokan harinya, tepat pukul 12.00 WIB, suamiku tercinta datang juga. Ah, rasanya kekuatan saya  bertambah dari 1 menjadi 100. Dengan sabar ia disisi saya, membelai rambut saya, dan mengecup kening saya guna memberikan semangat. Tak lama kemudian, suami saya menemui dokter.

Dokter masuk dan menyatakan bahwa suami saya sudah setuju dilakukan tindakan kuretase tersebut dengan pertimbangan kesehatan bagi saya. Dan lima belas menit kemudian, perawat dan dokter telah mempersiapkan diri untuk memulai induksi persalinan kepada saya guna membuka jalan lahir yang lebih lebar agar proses kuretase berjalan lancar. Saya memohon kepada dokter agar dibius total selama kuretase, dan dokter menyetujuinya.

10 menit setelah pemasangan obat, perut saya mulas dan mengeluarkan darah segar yang sangat banyak. Setelah suster masuk memeriksa, ternyata obat yang terpasang divagina saya ikut keluar bersama darah dan beberapa jaringan dirahim saya. Sebenarnya, anak dalam kandungan saya memang sudah menunjukkan keinginan untuk keluar lewat gerakan kontraksi rahim yang tak berhenti sejak satu malam sebelumnya. Jadi, tanpa obatpun persalinan itu sudah secara alami saya rasakan. Atas persetujuan dokter, suster itu kembali memasukan obat ke vagina saya dan saya tidak boleh bergerak atau mengejang ketika mulas datang. Saya diminta menunggu selama 2 jam. Rasa mulas yang familiar, karna saat kehamilan 6 minggu kontraksi seperti ini pernah saya rasakan sebagai akibat kelelahan sehingga ada ancaman keguguran.

Darah bercampur air ketuban (mungkin) mengalir deras dan membasahi seluruh pakaian saya. Gumpalan terasa keluar dari vagina saya, dan saya tidak berani memeriksanya sendiri. Suami saya terus menunggui selama berjam jam. Sambil bercanda dan tertawa, rasa sakit itu perlahan mulai saya kuasai. Suster kembali masuk dan menyatakan apabila saya mulas dan tak tertahankan saya harus segera memanggil perawat. Entah bagaimana, fase mulas yang tak tertahankan itu tak kunjung tiba, mungkin toleransi saya terhadap rasa sakit cukup tinggi atau mungkin karna suami terus menghibur saya jadi rasa sakit itu berlalu begitu saja.

Jam 17.00 WIB suster mengecek saya dan ternyata oh ternyata, janin saya sudah lahir. Saya tidak berani melihatnya, hanya sekilas menatap mata dan kakinya yang tertekuk. Air mata meleleh melihatnya. Suster menanyakan apakah saya tidak sakit saat mengeluarkan janin saya? Saya jawab tidak. Perawat segera bergegas menyiapkan proses kuret.

Saya pun berjalan ke ruang persalinan. Rasa takut mengaliri seluruh tubuh saya. Dokter menanyakan kapan terakhir kali saya makan, dan itu setengah jam sebelum masuk keruangan tersebut. Alhasil, dokter bilang saya tidak bisa dibius karna khawatir akan muntah. Bayangkan, kuret dan tanpa bius.

Perut saya dikeruk tanpa ampun, anehnya tak satupun kata sakit atau air mata keluar dari diri saya. Dokter terus meneriakan untuk rileks. Dan yang saya hanya bayangkan wajah suami saya membelai dan mencium kening saya. Rileks. Sambil berdoa, ya Allah berikanlah hamba kekuatan. Sakitnya membuat saya dingin sekujur tubuh padahal awalnya saya berkeringat. Saya pasti mengalami syok pendarahan. Tak sampai 10 menit seluruh proses itu berlalu. Lemas rasanya. Suami saya masuk kembali dan bertanya apa yang saya rasa. Saya tak mampu menjawab, menangis atau apapun. Rasanya seluruh tenaga saya habis untuk menahan sakit.

Lalu perawat bertanya apakah saya pusing, saya jawab tidak. Saya pun berjalan kembali ke ruang perawatan. Suster mengatakan bahwa saya cukup kuat fisiknya hingga melalui kuret tanpa bius, tanpa mengeluh, tanpa menangis. Padahal, saya hanya kehabisan tenaga untuk menahan sakit dan tidak mau teriakan saya mengganggu konsentrasi dokter dan proses kuret berlangsung lama. Ah, selain itu saya yakin anakku sayang tak ingin menyiksa mamanya, sehingga dia pun keluar sendiri tanpa sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s