Diet bagi Penderita Leukemia

“Siapa bilang gizi tidak banyak kaitannya dengan kesehatan! Siapa bilang salah gizi tidak sama bahayanya dengan salah obat!”


 

 

Leukemia terdiri atas dua jenis, yakni Myeloid dan Lymphoblastic, yang bisa bersifat akut maupun kronik. Leukemia jenis Myeloid menyerang sumsung tulang belakang, sehingga pada penderita AML (Acute Myeloid Leukemia) maupun CML (Chronic Myeloid Leukimia) akan terjadi gangguan pembentukan sel darah, baik itu sel darah merah, sel darah putih, maupun trombosit. Kondisi tersebut memicu terjadinya kondisi anemia (kurangnya produksi sel darah merah), trombositopenia (kurangnya produksi trombosit) dan leukopenia (kurangnya produksi sel darah putih). Produksi trombosit yang rendah menyebabkan penderita rentan terhadap pendarahan. Sel darah penderita Myeloid Leukimia akan ditemukan adanya Auer Rods. Sedangkan, kondisi Lymphoblastic Leukemia, sel kanker menyerang bagian diluar sumsum tulang belakang, dan berkaitan dengan pembentuk sel beta.

Selain itu, ada pula kondisi pre-leukemia, yakni Myelodysplastics Syndrome (MDS). Myelodysplastic syndromes (MDS) merupakan gangguan pada produksi sel darah yang terjadi di sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang merupakan jaringan tipis yang terletak di tengah tulang manusia dan berfungsi untuk memproduksi sel darah. Sumsum tulang belakang penderita MDS akan memproduksi sel darah secara abnormal, dimana sel darah yang dihasilkan bersifat immature dan dalam perjalanannya sel darah tersebut akan mengalami kegagalan pematangan sehingga saat memasuki aliran darah tidak dapat berfungsi secara sempurna. Sel darah yang tidak matang atau immature tersebut dikenal dengan nama blast cell. Saat memasuki sistem peredaran darah, blast cell akan dipecah, sehingga mengakibatkan kadar sel darah penderita MDS berada dibawah normal. Sel darah yang jumlahnya dibawah normal bisa terdiri atas satu jenis sel darah saja atau bisa pula terdiri atas beberapa jenis sel darah. Ada tujuh tahapan atau stadium dalam MDS menurut WHO, yakni :

1. Refractory cytopenia with unilineage dysplasia (RCUD)
2. Refractory anemia with ringed sideroblasts (RARS)
3. Refractory cytopenia with multilineage dysplasia (RCMD)
4. Refractory anemia with excess blasts-1 (RAEB-1)
5. Refractory anemia with excess blasts-2 (RAEB-2)
6. Myelodysplastic syndrome, unclassified (MDS-U)
7. Myelodysplastic syndrome associated with isolated del(5q)

MDS RAEB II merupakan suatu kondisi yang menunjukan kadar sel darah penderita berada dibawah normal untuk satu atau lebih jenis sel darah dan produksinya di sumsum tulang belakang juga tampak tidak normal. Penderita MDS RAEB II memproduksi 10 – 20% lebih banyak blast cell di sumsum tulang dibandingkan penderita MDS RAEB I. Sekitar 5 hingga 19% sel darah yang diproduksi penderita MDS RAEB II merupakan blast cell dan blast cell kemungkinan berisi Auer Rods (gumpalan material granular azurophilic yang membentuk jarum memanjang terlihat dalam sitoplasma blast leukemia). Penderita MDS RAEB II beresiko 50% lebih besar untuk berkembang menjadi AML (Sanz et al. 1989).

Resiko MDS tinggi pada orang yang sering terpapar zat kimia, rokok dan juga radiasi. Pada pasien kanker yang menjalani penyembuhan dengan metode radiasi biasanya beberapa tahun kemudian akan terserang MDS. Hal tersebut dinamakan MDS sekunder atau MDS terkait pengobatan.

Myelodysplastic syndrome (MDS) mengacu pada sekelompok gangguan heterogen yang berkaitan erat dengan gangguan hematopoietik klonal. MDS ditandai dengan hypercellular atau hiposeluler sumsum dengan gangguan morfologi dan pematangan (dysmyelopoiesis) serta cytopenias darah perifer, akibat produksi sel darah tidak efektif. Semua jenis sel darah dalam hematopoiesis myeloid dapat terlibat, termasuk eritrosit, granulosit, dan baris sel megakaryocytic. Meskipun klonal, MDS dianggap sebagai kondisi premalignant dalam subkelompok pasien yang sering berkembang menjadi akut leukemia myelogenous (AML) ketika kelainan genetik tambahan diperoleh (Sanz et al. 1989).

Pada sindrom myelodisplastic, sumsum tulang belakang lebih banyak memproduksi sel blast atau sel darah yang belum matang. Blast tidak dapat berfungsi layaknya sel darah normal sehingga ketika memasuki peredaran darah sel blast akan dihancurkan. Seluruh sel tubuh mahluk hidup mengandung DNA dan RNA, dimana ketika terjadi perombakan sel maka basa purin yang terkandung dalam DNA dan RNA sel tersebut akan menghasilkan produk akhir yang dikenal dengan nama asam urat. Peningkatan jumlah sel blast yang dirombak pada penderita leukimia berakibat pula pada peningkatan asam urat dalam darah. Selain itu, kemoterapi yang menyebabkan kerusakan sel, baik pada sel kanker maupun sel normal, akan menyebabkan peningkatan kadar asam urat sebagai manifestasi akhirnya (Hurst 2008).

Diet Leukemia

Berdasarkan penjelasan diatas, diketahui bahwa kanker darah pun bisa menyebabkan berbagai gangguan lain, baik anemia hingga asam urat, sehingga pada intervensi gizi yang hendak direncanakan bagi penderita kanker darah ini tidak semata – mata hanya mementingkan kondisi kankernya saja, namun juga mempertimbangkan adanya kemungkinan efek lain yang akan timbul terkait penyakit tersebut. Pada prinsipnya, penderita kanker harus menjalani diet Tinggi Energi dan Tinggi Protein, hal ini guna mengimbangi kebutuhan energi dan protein yang juga ikut meningkat seiring adanya perkembangan kanker dalam tubuh. Sel kanker ibarat suatu parasit dalam tubuh, ia akan menyedot dan menggunakan zat – zat gizi yang seharusnya untuk kebutuhan tubuh secara normal. Zat –  zat gizi tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan sel kanker itu sendiri, sehingga apabila asupan zat gizi penderita kanker kurang, sel – sel kanker tersebut akan menggunakan cadangan energi dan protein dalam tubuh dan lambat laun menyebabkan penurunan berat badan hingga kondisi kurang gizi atau disebut kaheksia.

Berbicara tentang leukimia, seperti yang dijelaskan sebelumnya, penyakit yang satu ini bisa membuat penderitanya mengalami peningkatan asam urat, meskipun belum tentu akan berkembang dan menimbulkan gejala Gout. Meski demikian, kondisi tersebut tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Untuk mencegah peningkatan asam urat yang berlebihan, penderita leukimia akan diberikan obat alupurinol guna menurunkan asam uratnya, namun ada baiknya hal tersebut juga didukung dengan diet rendah purin guna mendukung efek obat. Diet rendah purin mengharuskan penderita leukemia membatasi konsumsi makanan berpurin sedang hingga tinggi, misalnya tahu tempe, sayuran berdaun hijau, makanan laut, kacang – kacangan, dan juga jeroan.

Ada satu lagi yang khas dari diet bagi penderita leukimia, yakni adanya pembatasan asam folat. Penggunaan folat masih dipertentangkan dalam kasus leukimia, baik jenis lymphoblastik maupun myeloid leukimia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan perkembangan kanker, sementara pada populasi lain, defisiensi asam folat justru bisa menghambat perkembangan kanker. Penelitian yang dilakukan Koury et al. (1997) menemukan bahwa defisiensi asam folat justru bisa mempercepat perkembangan menuju AML (Acute Myeloid Leukimia) terutama pada pasien yang berisiko tinggi mengidap penyakit ini. Namun, hal bertentang ditemukan oleh Sydney Farber pada tahun 1948. Beliau melihat bahwa suplementasi asam folat pada anak – anak penderita Anemia Perniciousa karena kekurangan vitamin B12 dapat diatasi dengan pemberian asam folat. Asam folat dapat membantu mengurangi produksi blast pada penderita Anemia Perniciousa. Kemiripan gejala antara Anemia Perniciousa dengan leukimia dalam hal produksi blast membuat Farber mencoba untuk menggunakan terapi asam folat pada pasien anak pengidap ALL (Acute Lymphoblastic Leukimia). Hasil mengejutkan ditemukan bahwa pasien anak tersebut justru semakin bertambah parah dengan pemberian suplementasi asam folat. Hal tersebut kemudian membawa pengobatan leukimia ke era baru dimana kemoterapi bagi penderita leukimia dilakukan dengan pemberian antifolat, aminopterin.
Penelitian terkait asam folat dengan perkembangan kanker belum sepenuhnya jelas. Pada penderita kanker kolorektal, suplementasi folat dapat menurunkan proliferasi adenoma dan kemungkinan dapat mencegah munculnya adenoma di masa depan. Penelitian Young In Kim pada tahun 2008 menyimpulkan bahwa pada jaringan normal asam folat dapat mencegah dan menghambat timbulnya sel neoplastik, namun pada kondisi preneoplastik dan neoplastik, asam folat akan mendorong proliferasi lesi kanker. Oleh karena itu, pemberian suplemen asam folat tidak direkomendasikan sebagai kemopreventif.
Sumber bahan makanan yang mengandung sedikit sekali asam folat adalah daging (secara umum), susu, telur, buah – buahan dan umbi. Bahan makanan yang mengandung folat dalam jumlah tinggi adalah kacang – kacangan, daun – daunan berwarna hijau (folat berasal dari bahasa latin “folium” berarti daun), seperti bayam, asparagus dan brokoli. Pemasakan dengan temperatur tinggi dapat menurunkan kadar folat, misalnya susu bubuk memiliki kadar folat yang lebih kecil dibandingkan dengan susu cair, karena pemanasan dapat merusak asam folat (Piliang dan Soewondo 2006).

Referensi :

Hurst Marlene. 2008. Pathophysiology Reviews. US : Mc Graw Hill.

Koury MJ, Park DJ, Martincic D, Horne DW, Kravtsov V, Whitlock JA, del Pilar Aguinaga M, dan Kopsombut P. 1997. Folate deficiency delays the onset but increases the incidence of leukemia in Friend virus-infected mice. Blood 90(10) : 4054 – 4061.

Sanz GF, Sanz MA, Vallespi T et al. 1989.Two regression models and a scoring system for predicting survival and planning treatment in myelodysplastic syndromes: a multivariate analysis on prognostic factors in 370 patients. Blood 74 : 395 – 408

Young In Kim. 2008. Folic Acid Supplementation and Cancer Risk: Point. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 17: 2220.

Piliang Wiranda G & Soewondo Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume II. Bogor : IPB Press.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s