Konsultasi Gizi

Konsultasi Gizi menurut Robert Lee dan David Nieman merupakan proses diagnosa dan intepretasi permasalahan gizi yang dialami klien serta merekomendasikan alternatif penyelesaian masalah tersebut.

Konsultasi Gizi menurut Prof. Hardinsyah merupakan ilmu dan seni dalam memberikan pelayanan secara profesional kepada klien yang memiliki masalah gizi dan gangguan makan guna mencari alternatif pemecahan masalah tersebut sesuai dengan harapan dan keunikan klien.

Konsultasi Gizi sendiri bisa diartikan sebagai kegiatan dialog profesional dalam setting pribadi untuk memperoleh pendapatan dan saran solusi masalah gizi.

Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan konsultasi gizi dalam istilah “Konsultasi” dan “Konseling”.

Konsultasi merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa kegiatan untuk memperoleh pendapat dan saran berasal dari permintaan klien, sehingga pendekatan ini bisa disebut sebagai bagian dari perspektif klien.

Konseling merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa kegiatan untuk memperoleh pendapat dan saran berasal dari cara pandang konselor.

Konselor adalah orang yang secara profesional mampu memberikan saran dan pendapat. Oleh karena itu, pendekatan ini bisa digunakan dalam perspektif pihak yang memberikan pelayanan atau konselor.

Klien sendiri merupakan seseorang membutuhkan pendapat dan saran dari konsultan atau konselor.

Mengapa konsultasi gizi menjadi penting untuk dilakukan?

1. Berkembangnya IPTEK terkait gizi belum tentu dapat dipahami oleh semua orang, sehingga sebagai bagian dari etik seorang ahli gizi perlu melakukan penyebaran informasi terkait perkembangan IPTEK gizi agar bisa diterapkan oleh semua orang demi kemaslahatan masyarakat.

2. Setiap individu bersifat unik dan memiliki masalah gizi yang bervariasi sehingga memerlukan solusi pemecahan masalah gizi yang bersifat individual. Solusi tersebut bisa diperoleh melalui konsultasi gizi, tentunya secara individu.

3. Peningkatan demand akan pentingnya gizi serta menguatnya kebijakan Paradigma Sehat meningkatkan kebutuhan dan permintaan akan informasi terkait gizi dan kesehatan, sehingga demand penyelenggaraan konsultasi gizi pun ikut meningkat.

4. Pergeseran tren penyakit dari infeksi ke penyakit non-infeksi, yang disebabkan oleh perilaku makan dan gaya hidup, ikut mendorong peningkatan demand penyelenggaraan konsultasi gizi.

5. Kondisi ekonomi yang membaik serta kemudahan akses informasi membuat masyarakat meningkatkan permintaan untuk mendapatkan informasi gizi melalui jasa konsultasi gizi di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

6. Melihat dari analogi perkembangan praktek dokter keluarga di daerah perkotaan, bukan tidak mungkin di masa depan keluarga di perkotaan juga akan memilih melakukan konsultasi gizi agar riwayat gizi setiap anggota keluarga bisa didokumentasikan dengan baik.

Apa saja komponen konsultasi gizi?

Ada enam komponen utama dalam penyelenggaraan konsultasi gizi, yaitu klien, konsultan, komunikasi, waktu, pelayanan+sarana+acuan, serta masalah dan solusinya.

Klien

1. Mempunyai masalah

2. Memiliki harapan

3. Mempunyai kesempatan

4. Perlu dukungan akses

Konsultan

1. Penguasaan ilmu

2. Keterampilan

3. Kepribadian

4. Penampilan

Komunikasi

1. Prolog – (Apresiasi)

2. Memahami masalah

3. Memahami harapan

4. Mendengarkan

5. Memberi kesempatan

6. Memberi tanggapan

7. Memberi solusi

8. Epilog – (Apresiasi)

Waktu

Biasanya konsultasi gizi dilakukan antara 5 – 30 menit (terdiri dari prolog hingga epilog) tergantung masalahnya. Harus diatur pula cara melakukan appointment dan jadwal untuk melakukan konsultasi gizi.

Pelayanan

1. Kenyamanan

2. Keramahan

3. Kecepatan

4. Ketepatan

5. Keberlanjutan

6. Imbalan

7. Bonus

8. Promosi

Sarana

1. Tempat dan suasana

2. Acuan

3. Alat hitung

4. Alat ukur

5. Alat atau media komunikasi

Acuan

1. Pengukuran

2. Penilaian (CoP)

3. Kemungkinan sebab – akibat

4. Akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi

5. Pangan sumber zat gizi

6. Diet

7. FAQ

Masalah

1. Masalah Utama

2. Masalah Penyerta

3. Kategori masalah

4. Faktor risiko

Solusi

1. Solusi Utama

2. Solusi Penyerta

3. Perencanaan

4. Motivasi

Prinsip – prinsip utama dalam melakukan konsultasi gizi

Prinsip pelayanan terpusat klien

a. Hubungan antara konsultan dan klien digunakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya sesuai dengan harapan

b. Hubungan konsultan dengan klien tidak seperti hubungan atasan dengan bawahan (superior – inferior) namun sejajar. Klien pun tidak perlu diinstruksikan dan diberi sanksi karena pada dasarnya klien sudah memiliki kelebihan dan kebolehan, sehingga sebagai konsultan perlu untuk memperkuat atau memperkukuhnya.

c. Hubungan antara konsultan dan klien didasarkan pada dua hal, yaitu saling menghargai (respect) dan saling percaya (trust)

Prinsip memperoleh informasi

a. mempersiapkan instrumen (formulir, acuan, alat dan komputer)

b. melalui berbagai cara (membaca, bertanya, mendengar [hearing, attending, understanding, remembering/recording, evaluating and monitoring], pengamatan klinis dan/ anamnesa, metode penilaian dan pengukuran, menganalisis dan menghitung)

c. percaya pada informasi yang diberi klien

d. menjaga kerahasiaan informasi dari klien.

Prinsip memberi solusi dan motivasi

a. berbasis bukti ilmiah

b. dimulai dari alternatif

c. yang paling sesuai dengan kondisi klien

d. menghindari atau netral terhadap isu – isu kontroversial

e. menjelaskan sisi positif dan negatif dari solusi yang diberikan

f. memberikan tips atau kiat

g. membangun suasana dan kondisi agar klien termotivasi

h. memperkuat kelebihan klien (pujian)

Prinsip membina hubungan

a. menyediakan tempat dan suasana yang menyenangkan bagi klien

b. menyediakan media yang dapat memperkuat hubungan (kartu nama dan leaflet)

c. memberikan keunikan pelayanan bagi klien (via kemitraan)

d. apresiasi kedatangan

e. empati dan kehangatan konsultasi

f. mengajak ke konsultasi selanjutnya

g. mengajak ke acara – acara yang diadakan klinik (seminar atau demo)

h. menghargai dan percaya klien

Konsultasi gizi juga perlu memahami cultural competence. Sebagai profesional harus memahami efek budaya terhadap kesehatan.
Cultural Competence memerlukan 3 hal : Attitude, Knowledge an Skill.

Attitude : Hal pertama yang kita pelajari dalam budaya kita dan mempengaruhi kebiasaan kita

Knowlegde : Be cautious of generalization

Skill : mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan yang dibatasi oleh nilai budaya

Strategy for Cultural Competent Counseling :

1. Open-ended question

2. Client-centered framework of comunication

3. Openess and listening to experiences, valuing client expertise, and being sensitive to difference.

4. Considering what strenght you have to bring to the counseling situation

5. Build on them

Jenis – Jenis Konsultasi Gizi

1. Konsultasi Gizi via tatap muka

2. Konsultasi Gizi via Telepon

3. Konsultasi Gizi via Media (Radio/TV, media cetak, internet)

Konsultasi Gizi Tatap Muka

Dilakukan secara tatap muka, bisa terjadwal atau pun tidak, dan biasanya dilakukan selama 15 sampai 30 menit sesuai dengan masalahnya. Tempat prakteknya pun disetting pribadi dengan suasana yang nyaman dan menarik, namun tetap mudah diakses.

Ciri – ciri konsultasi gizi tatap muka :

1. Pendaftaran dilakukan lewat telepon atau secara langsung

2. Clinic record

3. Pengamatan klinis dan / anamnesa

4. Duduk bertatap muka dengan klien dengan dibatasi meja atau meja diletakkan disamping

5. Dialog mendalam

6. Menerapkan prinsip BIAR TUNTAS

7. Bisa dilanjutkan dengan konsultasi gizi via telepon.

Konsultasi Gizi via Telepon

Diskusi tanpa tatap muka yang dilakukan selama 5 sampai 30 menit sesuai dengan masalah, menggunakan telepon yang dilengkapi dengan recording, mudah diakses, suara bersih tidak terpolusi dan ada musik intermezzo jika layanan sibuk.

Ciri – ciri konsultasi gizi via telepon :

1. Pendaftaran dilakukan via telepon

2. Type recording

3. Dialog mendalam

4. Tidak bisa 100 persen menerapkan prinsip BIAR TUNTAS

5. Bisa dilanjutkan dengan konsultasi via tatap muka.

Konsultasi Gizi di Media

Bentuk media yang digunakan bisa media cetak dan media elektronik. Bentuk penyajiannya bisa tulisan, dialog tertutup (dari rekaman kaset di radio TV atau twitter terjadwal), dialog terbuka. Waktunya bisa berkala (media cetak berkala dan media elektronik broadcast berkala) maupun tidak berkala (media cetak berkala dan advertising, media elektronik broadcast dan non-broadcast).

Ciri – ciri konsultasi gizi di media :

1. Kesempatan (waktu dan ruang) amat terbatas

2. Sulit terlalu pribadi (penyamaran identitas)

3. Sering tidak terstruktur (pro-aktif klien)

4. Sulit menelusuri informasi klien yang tidak lengkap

5. Solusi yang diberikan sering tidak optimal

6. Sulit melakukan tindak lanjut.

Perbedaan bentuk media :

Tulisan

1. Tidak ada kata pengantar

2. Pertanyaan tidak spontan

3. Solusi tidak spontan

4. Jumlahnya 50 – 250 kata

5. Dilakukan 1 – 3 kali kongiz

6. Mekanisme

7. Ada daya tarik

Dialog

1. Ada kata pengantar sebelum dialog

2. Pertanyaan spontan

3. Solusinya spontan

4. Satu pertanyaan durasinya antara 1 – 5 menit

5. Dilakukan 3 – 8 kali kongiz (30-45 menit)

6. Mekanisme

7. Ada daya tarik

BIAR TUNTAS

Bersahabat

Identifikasi masalah

Analisis penyebab masalah dan potensi klien

Rekam upaya yang sudah dilakukan

Tanya harapan

Upaya solusi alternatif

Niat dan pilihan solusi

Tetapkan rencana

Anjurkan solusi yang paling sesuai

Semangati klien untuk melakukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s