Sirosis Hati

Kebiasaan pasien dalam mengonsumsi minum beralkohol menyebabkan terbentuknya sirosis hati. Pecandu alkohol akan menghasilkan radikal bebas oksigen dalam tubuhnya yang akan meracuni sel hepatosit. Alkohol, yang dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama, juga akan menyebabkan penumpukan trigliserida atau asam lemak dalam sel hati sehingga memicu terjadinya proses perlemakan hati. Hal tersebut disebabkan karena tubuh lebih memilih menggunakan alkohol, yang merupakan salah satu bentuk karbohidrat sederhana, sebagai bahan bakar pembentukan energi daripada menggunakan asam lemak karena lebih efisien untuk dimetabolisme menghasilkan energi. Alhasil, asam lemak pun menjadi menumpuk di dalam sel – sel hati. Selain itu, produk akhir dari alkohol, yaitu asetaldehid, akan menghambat proses fosforilasi oksidatif asam lemak dalam mitokondria sel hati sehingga asam lemak atau trigliserida akan terperangkap dalam sel hati dan mempercepat proses terjadinya perlemakan hati (Corwin 2008).

Bila pada tahap perlemakan hati ini pasien masih mengonsumsi alkohol secara terus menerus, maka perlemakan hati tersebut akan berkembang menjadi peradangan hati atau dikenal dengan istilah hepatitis alkohol. Konsumsi alkohol secara terus menerus setelah fase perlemakan hati akan menyebabkan asetaldehid sebagai produk akhir dari metabolisme alkohol dan juga ion hidrogen semakin menumpuk dalam tubuh dan meracuni sel – sel hati. Hal tersebut memicu terjadi infiltrasi neutrofil sel hati serta nekrosis dengan adanya sekresi sitokin tumor necrosis factor alpha (α-TNF) sehingga memicu kematian sel hati secara terprogram (apoptosis) yang mengakibatkan menghilangnya sebagian sel – sel hati. Sel – sel hati yang mati akan digantikan dengan jaringan fibrosis dan membentuk jaringan parut yang melingkar atau melilit disekitar hepatosit yang masih ada. Peradangan hati pun terjadi, ditandai dengan peningkatan bilirubin yang ditunjukan dengan warna sklera mata menjadi sedikit kekuningan (jaundice) (Corwin 2008). 

Peradangan hati atau hepatitis alkohol akan berkembang menjadi sirosis hati, yang merupakan tahap akhir kerusakan sel – sel hati. Hati akan mengalami pembengkakan atau edema interstisium dan menyebabkan retensi terhadap aliran darah melalui hati serta kolapsnya pembuluh – pembuluh darah kecil yang akan mengakibatkan terbentuknya asites di perut dan hipertensi porta. Hipertensi porta akan mengakibatkan gangguan pada fungsi hematologi, yang ditandai dengan adanya anemia pada pasien sirosis hati, dan dapat berkembang menjadi hipertensi sistemik. Hipertensi porta juga dapat mengakibatkan pecahnya vena esofagus yang akan memunculkan kaput medusae (Corwin 2008).

Di sisi lain, penderita juga mengalami kurang gizi, dilihat dari IMT pasien kurang dari normal atau sekitar 16,9 kg/m2. Gizi kurang dapat merangsang hati untuk melakukan glukoneogenesis secara berlebihan. Glukoeneogenesis secara berlebih akan menyebabkan protein dalam tubuh terkatabolisme dan memicu terjadinya hipoalbuminemia. Hipoalbuminemia merupakan suatu keadaan dimana kadar albumin dalam darah berada dibawah kondisi normalnya, atau kurang dari 4 g/dl. Kurangnya albumin dalam darah akan menyebabkan penurunan tekanan onkotik dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan cairan dalam plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah ke rongga perut dan memperparah kondisi asites pasien (Corwin 2008).

Gizi kurang dikombinasikan dengan defisiensi asam empedu akan menyebabkan terjadinya diare yang disertai dengan steatorea. Asam empedu yang diproduksi oleh hati akan menurun jumlahnya ketika faal hati juga menurun akibat retensi terhadap aliran darah  yang melalui hati. Padahal, asam empedu berperan dalam proses pencernaan lemak dengan membantu menyatukan air dengan lemak untuk membentuk misel sehingga bisa diserap oleh duodenum. Oleh karena itu, bila terjadi defisiensi asam empedu akan berakibat pula pada penurunan penyerapan lemak dalam usus. Hal tersebut mengakibatkan lemak akan terbuang bersama – sama dengan feses (steatorea) (Corwin 2008; Suharjo 2009).

 

Referensi :

Corwin, Elizabeth J. 2008. Buku Saku Patofisiologi Edisi Ketiga. Jakarta : Gramedia

Suharjo, JB. 2009. Batu Empedu. Yogyakarta : Kanisius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s