Suku Korowai Papua

“It’s as if they’re still living in the Stone Age. They don’t wear any clothes and they live in trees in the jungles. Now that we know who they are, their numbers and characteristics, they won’t be isolated anymore. We can ensure they get access to education and health care just like any other Indonesian.”

– Suntono, Kepala Pusat Statistik Indonesia untuk Papua, dikutip dari harian the Daily Telegraph.

 

Suku Korowaimerupakan salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka dan baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu. Suku Korowai berdomisilidi daerah pedalaman Kouh, Merauke, Irian Jaya. Mereka hidup tersebar di sepanjang aliran sungai Eilanden dan Becking, bagian timur hulu sungai Becking, dan di daerah rawa maupun hutan hujan yang terdapat di area pegunungan sekitar perbatasan Papua Nugini. Suku Korowai tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka hingga tahun 1970, saat mereka ditemukan. Sejak saat itu, bantuan pendidikan mulai dapat diberikan kepada penduduk Korowai, sebagai bagian dari warga negara Indonesia.

Penduduk asli suku Korowai disebut Kolufo (mengarah pada kumpulan orang-orang yang menggunakan satu bahasa yang diambil dari bahasa yang digunakan oleh famili Awyu-Dumut [Papua Tenggara] dan merupakan bagian dari filum Trans-Nugini). Mereka hidup dalam klan – klan dan dipimpin oleh seorang kepala suku, yang disebut sebagai Nati. Perkiraan sementara terdapat 50 klan yang terdaftar berdasarkan nama. Survei yang dilakukan pada tahun 1986 hingga 1990, dengan menggunakan helikopter, berhasil mengestimasi jumlah sementara penduduk asli yang berbicara dalam bahasa  Korowai, yaitu sekitar 4000 orang. Lebih dari 70% penduduknya masih tinggal di daerah asal mereka, namun sekitar 30% lainnya telah pindah ke desa – desa lain. Klan Korowai pindah ke desa – desa yang baru dibuka, seperti di daerah Yaniruma dekat tepian sungai Becking (daerah Kombai-Korowai), Mu, dan Basman (daerah Korowai-Citak), sejak tahun 1980. Pada tahun 1987, dibuka desa-desa baru lainnya, seperti Yafufla di Manggel, Mahul dekat tepian sungai Eiladen, dan Khaiflambolup, yang menjadi tujuan klan Korowai untuk hijrah.

Keunikan suku Korowai terdapat pada tempat tinggal mereka berupa rumah pohon, yang dapat mencapai ketinggian 8-12 meter diatas permukaan tanah atau bahkan mencapai ketinggian 45 meter bila berada di area hulu sungai, dan dilengkapi dengan sebatang pohon portable untuk membantu mereka naik ke atas rumah. Setiap rumah pohon didesain dengan interior rectangular yang membagi rumah tersebut menjadi dua hingga tiga  ruangan, sedikitnya dapat ditempati oleh seorang pria dan wanita dewasa, dan dilengkapi dengan tempat untuk meletakkan api. Ada tiga alasan suku Korowai memilih hidup di rumah pohon. Alasan pertama, mereka merasa dengan hidup di rumah pohon maka mereka akan lebih aman dari serangan musuh. Kedua, dengan tinggal di rumah pohon, suku Korowai akan lebih mudah mengawasi dan mendapat hewan buruan, seperti babi hutan yang berkeliaran di bawah rumah pohon mereka sehingga dengan mudah dapat dibidik dengan panah. Ketiga, mereka menganggap bahwa rumah pohon memiliki value tersendiri karena sudah merupakan budaya yang diwariskan secara turun temurun sehingga mereka merasa nyaman tinggal disana.

 

Klan Korowai hidup di teritorial masing – masing, yang disebut bolup. Mereka hidup dalam hubungan yang bersahabat dengan klan tetangga atau hidup terisolasi antar satu klan dengan klan lain. Teritorial satu klan terdiri dari 1-5 kluster rumah pohon (khaim). Dalam satu klan, pada dasarnya hanya berisi seorang pria dewasa, satu atau lebih istrinya, dan anak – anaknya yang belum menikah. Klan tersebut juga dapat terdiri dari ibu (kandung atau mertua) yang sudah menjanda,  sepupunya yang belum menikah, atau bahkan anak dari sepupunya yang masih lajang, sehingga dalam satu klan keluarga dapat mencapai maksimal lima puluh orang. Rata-rata dalam satu klan tinggal di lebih dari dua rumah pohon dengan populasi sekitar 20-30 orang. Bila anggota klan dapat mencapai hingga lebih dari lima puluh orang, maka sebagian dari mereka akan pindah ke desa lain dan membentuk kelompok yang lebih kecil.

Kehidupan dalam klan Korowai memiliki suatu adat tertentu, seperti seorang pria yang menjadi pemimpin keluarga dilarang bertengkar atau melakukan kekerasan pada mertuanya dan apabila hal tersebut dilanggar makan anaknya akan terkena penyakit. Anak-anak perempuan suku Korowai (mbambam) lebih banyak dibesarkan dan tinggal bersama ibunya dan klan wanita dalam ruangan wanita yang terdapat dalam rumah pohon. Begitu pula dengan anak laki-laki yang mulai beranjak remaja atau yang sudah akil balig akan di tempatkan di ruangan laki-laki dalam rumah pohon. Bayi selalu dibawa dalam suatu tas yang digantung di tubuh sang ibu (ainop) sehingga lebih mudah disusui kapanpun sang bayi ingin.

Perkawinan dalam suku Korowai bersifat eksogami (kawin campur antar suku) dan poligami. Seorang pria tidak dapat menikahi istri pertamanya sebelum berusia dua puluh tahun. Namun, seorang wanita dapat menikah saat baru beranjak remaja atau diusia yang lebih muda lagi. Seorang wanita muda yang sudah menikah harus belajar menyesuaikan diri dengan perubahan pikiran dan hasrat suami yang tiba-tiba, dengan tahan terhadap hukuman badani yang mungkin mereka terima. Oleh karena itu, seorang anak perempuan akan diajari cara melakukan tugas – tugas wanita dewasa dalam usia mereka yang sangat muda, sehingga mungkin pada usia diatas sepuluh tahun mereka akan dinikahi oleh lelaki yang lebih tua dan melakukan tugas lengkap seorang wanita dalam hal mengurusi urusan ekonomi keluarga, kehidupan sosial dan seksual. Pria dalam suku Korowai menjatuhkan pilihan untuk menikahi gadis-gadis di desanya bukan berdasarkan kecantikan fisik namun kemampuan gadis tersebut dalam mengumpulkan bahan makanan atau keahlian hidup lainnya. Istri dan anak dalam suku Korowai memiliki value tersendiri karena semakin banyak anggota klan yang dimiliki maka semakin besar pula kebanggaan mereka.

Meskipun hidup terisolasi suku Korowai tidak pernah kelaparan maupun jatuh sakii, sehingga mereka tidak memerlukan rumah sakit. Hal ini karena bagi suku Korowai, alam adalah sumber kehidupan dan kesehatan yang langsung mereka rasakan. Kesadaran akan fungsi-fungsi alam membuat mereka sangat menjaga kelestarian alam agar mereka dapat bertahan hidup. Mereka tidak perlu lumbung untuk menyimpan makanan, karena alam telah menyiapkannya dengan sangat sempurna dalam suatu proses evolusi ekosistem. Oleh karena itu, mereka menjaga kelestarian sumber daya alam tersebut dengan membuat norma-norma pengelolaan sumber daya alam yang efektif, termasuk regenarasi sumber-sumber makanan mereka, seperti menanam pohon sagu, tidak boleh menebang jenis pohon tertentu, tidak boleh menangkap ikan di sungai-sungai dengan zat beracun, kecuali dengan busur atau dengan alat pancing biasa, serta sangat melarang penangkapan burung Cendrawasih, termasuk aturan berburu babi dengan jenis kelamin dan umur tertentu. Pelanggaran norma adat akan menyebabkan hukuman mati atau tebusan berupa babi hutan.

 

Referensi       :

^ Bisht, Narendra S.; Bankoti, T. S. (1 Maret 2004). Encyclopaedia of the South East Asian Ethnography. Global Vision Publishing Ho. hlm. 349. ISBN 9788187746966.

http://www.allvoices.com/contributed-news/6260505-indonesian-korowai-tribe-first-officially-recognised-as-treedwellers

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s