Analisis Mineral dengan Pengabuan Basah pada Bubur Bayi

Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen organik sampel menggunakan oksidator kimiawi, seperti asam kuat. Asam yang digunakan bisa terdiri atas satu jenis asam atau kombinasi dari beberapa jenis asam. Penggunaan satu jenis asam sebenarnya lebih dianjur, namun dalam prakteknya ternyata kurang baik karena destruksi bahan sering kurang sempurna (Andarwulan et al. 2010).

Kombinasi asam yang sering digunakan dalam pengabuan basah adalah kombinasi asam nitrat dengan asam sulfat. Penggunaan asam sulfat memakan waktu oksidasi yang sangat lama. Penggunaan asam nitrat dapat mengoksidasi bahan organik sampel dengan baik, namun sayangnya asam nitrat cepat habis bahkan sebelum semua sampel terdestruksi sempurna. Oleh karena itu, untuk menyiasati kekurangan dari oksidator kimiawi tersebut maka digunakan kombinasi asam nitrat dan asam sulfat (Andarwulan et al. 2010).

Prinsip Kerja AAS (Atomic Absorption Spectroscopy)

AAS menggunakan lampu katoda berongga untuk memancarkan cahaya pada frekuensi tertentu yang dapat diserap oleh logam yang berbeda ketika menguap oleh api. Cahaya tersebut kemudian diserap oleh sampel yang mengandung ion logam. Energi yang diserap mengaktifkan elektron, memindahkannya dari keadaan dasar ke keadaan energi yang lebih tinggi (Janice 2010).

Jumlah cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi ion logam dalam larutan. Konsentrasi sering dinyatakan sebagai mg/L atau ppm. Jumlah cahaya yang diserap oleh sampel dibandingkan dengan jumlah cahaya yang diserap oleh satu set konsentrasi standar yang diketahui (Janice 2010).

Mineral Fe, Ca, Zn

Fe

Angka kecukupan gizi untuk besi berdasarkan AKG 2004 bagi bayi berusia 0-6 bulan adalah 0,5 mg; untuk bayi usia 7-12 bulan adalah 7 mg; sedangkan bagi balita usia 1-3 tahun adalah 8 mg.

Sumber pangan nabati mengandung besi dalam bentuk Fe3+, sedangkan sumber pangan hewani mengandung besi dalam bentuk Fe2+. Besi dari pangan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh dibanding dari sumber pangan nabati, karena dalam saluran pencernaan besi akan mengalami reduksi menjadi Fe2+ yang lebih mudah diserap. Reduksi tersebut memerlukan bantuan vitamin C dan suksinat. Selain itu, dalam pangan nabati biasanya terdapat zat yang menghambat penyerapan zat besi seperti asam fitat Besi dalam bentuk heme terdapat dalam bahan pangan hewani seperti daging, ikan, dan unggas. Besi dalam bentuk non heme terdapat dalam bahan pangan nabati (buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian), dairy products (susu, keju, yoghurt) & telur (Winarno 2008; Piliang et al. 2006).

 Zn

Angka kecukupan gizi untuk seng berdasarkan AKG 2004 bagi bayi berusia 0-6 bulan adalah 1,3 mg; untuk bayi usia 7-12 bulan adalah 7,3 mg; sedangkan bagi balita usia 1-3 tahun adalah 8,2 mg.

Defisiensi zinc dapat diatasi dengan mengkonsumsi bahan pangan yang mengandung protein tinggi, seperti Shellfish (khususnya oyster), daging, dan, unggas. Kacang-kacangan (legumes), dairy food, gandum (whole grain), dan sereal hasil fortifikasi juga merupakan sumber zinc yang baik. Zinc lebih banyak ditemukan dengan avabilitas tinggi serta daya serap yang lebih baik, bersumber dari bahan pangan hewani. Roti yang terbuat dari gandum utuh umumnya telah mengalami proses fermentasi sehingga kandungan fitatnya berkurang dan dapat meningkatkan penyerapan zinc (Gropper et al. 2005).

Ca

Angka kecukupan gizi untuk kalsium berdasarkan AKG 2004 bagi bayi berusia 0-6 bulan adalah 200 mg; untuk bayi usia 7-12 bulan adalah 400 mg; sedangkan bagi balita usia 1-3 tahun adalah 500 mg. Berikut ini adalah contoh bahan makanan sumber kalsium :

Bahan Pangan Kalsium (mg)
Yogurt (rendah/tanpa lemak) 415
Sawi (rebus) 357
Susu skim 306
Yogurt  (whole milk) 275
Black-eyed peas (rebus) 211
Salmon kaleng 181
Calcium-set tofu 163
Cheese food, pasteurized American 162
Trail mix (nut, seeds, chocolate chips) 159
Baked beans, kalengan. 154
Cottage cheese, 1% milk fat 138
Iceberg lettuce 97
Green peas, boiled 94
Susu Kedelai 93
Jeruk 72

Sumber : Harvard School of Public Health Nutrition Source (2010)

SNI Makanan Pendamping ASI untuk Bayi Usia 6-12 Bulan

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 224/Menkes/SK/II/2007 tentang spesifikasi teknis makanan pendamping ASI, maka makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Bubuk Instan terbuat dari campuran beras dan atau beras merah, kacang hijau dan atau kedelai, susu, gula, minyak nabati, dan diperkaya dengan vitamin dan mineral serta ditambah dengan penyedap rasa dan aroma (flavour). Komposisi zat gizi dalam 100 gram terdiri atas kalsium sebanyak 200-400 mg, seng 2,5-4,0 mg, dan besi 5-8 mg.

Sampel Fe (mg) Ca (mg) Zn (mg)
Promina rasa ayam dan sayur 3,9 240 2,2
Cerelac rasa kacang hijau 1,1 80 0,7
SUN rasa beras merah 3,5

 

140 2,2

 

Reference :

AKG 2004

Andarwulan, Nuri, Feri Kusnandar, & Dian Herawati. 2011. Analisis Pangan. Jakarta : Dian Rakyat.

Gropper, Sareen S., Jack L. Smith, & James L. Groff. 2005. Advanced Nutrition and Human Metabolism Fourth Edition. California : Thomson Wadsworth.

http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/what-should-you-eat/calcium-sources/index.html

Janice. 2010. Chemistry Tutorial : Atomic Absorption Spectroscopy. http://www.ausetute.com.au/aas.html [Tanggal akses : 1 Oktober 2012]

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor  224/Menkes/SK/II/2007

Winarno, F. G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Dian Rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s