Metode Analisis Asam Urat Darah

TINJAUAN PUSTAKA

Metode Analisis Asam Urat Darah

Jenis spesimen yang diperlukan dalam analisis asam urat adalah serum atau plasma heparin. Diambil 3-5 ml darah vena dimasukkan ke dalam tabung bertutup merah atau tabung bertutup hijau (heparin) kemudian disentrifus; cegah terjadinya hemolisis. Serum atau plasma heparin dipisahkan. Kadar asam urat diukur dengan metode kolorimetri menggunakan fotometer atau analyzer kimiawi (Riswanto 2010).

Sebelum pengambilan sampel darah, pasien diminta puasa 8-10 jam. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau cairan; namun pada banyak kasus, asupan makanan tinggi purin (mis. daging, jerohan, sarden, otak, roti manis, dsb) perlu ditunda minimal selama 24 jam sebelum uji dilakukan; demikian pula dengan obat-obatan yang dapat mempengaruhi hasil laboratorium. Jika terpaksa harus minum obat, catat jenis obat yang dikonsumsi (Riswanto 2010).

Nilai rujukan yang digunakan dalam analisis kuantitatif asam urat dengan metode ini, yaitu untuk laki-laki  3.5-7.0 mg/dl, perempuan  2.5-6.0 mg/dl, saat dalam kondisi panik > 12 mg/dl, dan untuk anak-anak 2.5-5.5 mg/dl, serta lansia 3.5-8.0 mg/dl. Faktor yang dapat mempengaruhi hasil analisis dengan metode ini antara lain terjadinya hemolisis pada serum atau plasma heparin yang digunakan, stress atau panik yang dialami pasien, serta konsumsi makanan tinggi purin atau obat-obatan yang mempengaruhi kadar asam urat (Riswanto 2010)
Obat-obatan yang berpengaruh pada peningkatan kadar asam urat adalah : diuretik (tiazid, furosemid, asetazolamid), levodopa, metildopa, asam askorbat, 6-merkaptopurin, fenotiazin, salisilat (penggunaan dalam jangka waktu lama), teofilin (Sustrani 2007).

Tes Mureksida untuk Analisis Asam Urat Urin Kualitatif

Pengujian asam urat dilakukan tes mureksida, yaitu dengan memanaskan sampai kering urin yang telah ditambah HNO3 pekat. Asam urat akan dioksidasi oleh HNO3 pekat membentuk asam dialurat dan aloksan. Setelah dingin, ditambahkan satu tetes ammonia encer (1 : 100), maka asam dialurat dan aloksan berkondensasi dengan amonia membentuk mureksida (ammonia purpurat) yang berwarna ungu kemerahan. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah jika urin setelah ditambahkan ammonia encer tetap berwarna merah, maka hal itu menyatakan adanya asam urat. Pereaksi Benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan tereduksi oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh glukosa), yang dibuktikan dengan terbentuknya kuprooksida berwarna merah (Soewolo 2005).

PEMBAHASAN

Metode Analisis Asam Urat dalam Urin

Analisis asam urat dapat dilakukan dengan menggunakan serum atau plasma heparin, maupun urin. Spesimen berupa serum atau plasma heparin diambil dari 3-4 ml darah yang berasal dari pembuluh darah vena, kemudian dimasukan ke dalam tabung tertutup. Bila analisis asam urat hendak menggunakan sampel urin maka sampel tersebut dapat diambil dari urin yang ditampung selama 24 jam dan telah diawetkan dengan penambahan toluena.

Kadar asam urat dalam serum atau plasma heparin dapat diukur dengan metode kolorimetri menggunakan fotometer atau analyzer kimia. Serum atau plasma yang akan digunakan harus disentrifus terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya hemolisis.
Sebelum pengambilan sampel darah, pasien diminta puasa 8-10 jam. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau cairan, namun pada banyak kasus, asupan makanan tinggi purin (misalnya daging, jerohan, sarden, otak, roti manis) perlu ditunda minimal selama 24 jam sebelum uji dilakukan. Demikian pula dengan obat-obatan yang dapat mempengaruhi hasil laboratorium. Nilai rujukan yang digunakan dalam analisis kuantitatif asam urat dengan metode ini, yaitu untuk laki-laki  3.5-7.0 mg/dl, perempuan  2.5-6.0 mg/dl, saat dalam kondisi panik > 12 mg/dl, dan untuk anak-anak 2.5-5.5 mg/dl, serta lansia 3.5-8.0 mg/dl. Faktor yang dapat mempengaruhi hasil analisis dengan metode ini antara lain terjadinya hemolisis pada serum atau plasma heparin yang digunakan, stress atau panik yang dialami pasien, serta konsumsi makanan tinggi purin atau obat-obatan yang mempengaruhi kadar asam urat. Metode ini digunakan dalam analisis laboratorium klinis, hasilnya cukup sensitif, warna yang dihasilkan juga lebih stabil. Namun biaya analisis tergolong tinggi karena peralatan yang digunakan mahal serta memerlukan keterampilan teknis yang baik dalam melakukan tes tersebut. Selain itu, penggunaan serum atau plasma heparin akan menyakitkan pasien dalam proses pengambilannya (Riswanto 2010).

Berbeda dengan penggunaan serum atau plasma heparin, penggunaan sampel urin lebih mudah dilakukan untuk menganalisis kadar asam urat. Proses pengumpulan sampel mudah dilakukan dan tidak menyakiti pasien. Metode yang digunakan dalam analisis kadar asam urat dalam urin adalah metode Franked – Benedict.  Urin yang telah dianalisis diencerkan terlebih dahulu dengan mengambil 5 ml sampel urin dan ditambahkan air hingga volumenya mencapai 100 ml. Kemudian dari hasil pengenceran tersebut, diambil 20 ml untuk ditambahkan 2 mL pereaksi arsenofosfotungstat dan 2 ml larutan standar asam urat. Larutan tersebut dikocok perlahan agar bercampur dan didiamkan selama 5 menit. Selanjutnya, larutan tersebut dibaca absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer agar dapat dihitung kadar asam urat yang terdapat dalam urin tiap mg/ml-nya. Pada percobaan ini, kadar blanko dijadikan nol karena asam urat mereduksi arsenofosfotungstat menjadi arsenofosfotungstit sehingga kadar blanko dianggap sangat rendah.Metode ini lebih mudah diterapkan dan tidak memerlukan waktu yang lama dalam penetapannya.

Analisis kualitatif asam urat dalam urin dapat dilakukan dengan tes mureksida.  Pengujian asam urat dengan tes mureksida dilakukan dengan memanaskan sampai kering urin yang telah ditambah HNO3 pekat. Asam urat akan dioksidasi oleh HNO3 pekat membentuk asam dialurat dan aloksan. Setelah dingin, ditambahkan satu tetes ammonia encer (1 : 100), maka asam dialurat dan aloksan berkondensasi dengan amonia membentuk mureksida (ammonia purpurat) yang berwarna ungu kemerahan. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah jika urin setelah ditambahkan ammonia encer tetap berwarna merah, maka hal itu menyatakan adanya asam urat. Pereaksi Benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan tereduksi oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh glukosa), yang dibuktikan dengan terbentuknya kuprooksida berwarna merah. Metode ini tidak dapat mengukur kadar asam urat dalam urin dan hanya digunakan untuk mendeteksi keberadaan asam urat dalam urin saja (Soewolo 2005).

Reference:

Riswanto. 2010. Asam Urat Darah (Serum). http://labkesehatan.blogspot.com/2010/03/asam-urat-serum.html [Tanggal akses : 13 Mei 2012]

Soewolo. 2005.Fisiologi Manusia.Malang: JICA.

Sustrani, Lenny. 2007. Asam Urat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s