Mimpiku

Aku memiliki mimpi, mimpi tentang suatu hal yang besar dan yang ingin kulakukan hanya denganmu.

Aku memiliki mimpi, yang tertanam sejak pertama kali aku melihatmu dalam hidupku.

Aku memiliki mimpi dan tak pernah putus asa untuk menggapainya karena cintamu yang mendukungku.

Entah mengapa, saat ini aku tidak punya lagi kekuatan untuk meraih mimpi itu.

Mimpi-mimpi itu jadi begitu berat untuk sekedar dimiliki.

Semuanya mulai terasa menyakitkan.

Kau disana bersama dia, dia yang telah menyakitimu.

Kau tertahan bersamanya, yang bahkan tidak tahu bagaimana cara mencintaimu.

Tidakkah kau lihat seberapa besar hal yang telah kuusahakan bagimu, mimpiku?

Aku memiliki mimpi, dan mimpi itu adalah dirimu.

Kutuliskan kau dalam daftar hal-hal yang membahagiakanku dan kujadikan kau bagian dari rencana masa depanku.

Namun, kini yang ingin kulakukan hanya menghapus setiap bagian yang pernah kita lalui bersama satu per satu.

Dan aku mulai menangis karena kehilangan mimpiku. Aku hilang arah seperti masa lalu.

Hatiku gentar dalam meraihmu, karena kusadari selamanya aku adalah hal nomor dua dihidupmu.

Disaat kau selalu jadi yang pertama dihidupku, namun tak sebaliknya berlaku bagiku.

Tuhan tahu seberapa besar aku mencintaimu, mereka juga melihat banyak hal telah kukorbankan bagimu.

Aku merasa bodoh, aku tak terlihat.

Meskipun kau bilang aku kekasihmu, sekali lagi dunia tidak tahu.

Dia yang bersamamu, kau begitu mengasihaninya.

Takut ia akan menderita setelah kesalahannya yang begitu besar.

Takut akan segala kerapuhannya bila kau meninggalkannya.

Kau mengasihinya yang dulu mengkhianatimu!

Selalu ada pengecualian baginya.

Lalu aku?

Aku yang mencoba tetap setia padamu.

Aku yang mencoba mencintaimu hingga remuk semua jantungku.

Pernahkah kau melirikku lebih dari yang kau lakukan kepadanya?

Inikah caramu membalas semua hal yang telah kuberi?

Kau bilang kau lelah mengikuti amarahku.

Seandainya bisa kau lihat kembali masa lalu, kurasa kau akan malu telah berkata demikian.

Yah, terkadang aku obyek kebahagiaanmu.

Aku berputar dan menari disekitarmu hanya ketika aku jadi sesuatu yang menyenangkan bagimu.

Dan ternyata itu bukan de Javu, dan ternyata kamu tidak banyak berubah.

Kamu masih seperti masalalu, tapi aku sudah letih mengikutimu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s