Guru-Guru Terinspiratif yang Pernah Saya Temui

“Apa sebenarnya guru itu? Biar kuberitahu : dia bukanlah orang yang mengajarkan sesuatu, tapi orang yang menginspirasi muridnya untuk mengupayakan yang terbaik demi bisa menguak apa yang sesungguhnya sudah diketahui sang murid,” -Paulo Coelho dalam The Witch of Portobello

Seperti kutipan diatas, kurang lebih begitulah pandangan saya dan mungkin sebagian besar orang lainnya tentang arti seorang guru. Guru bukan hanya seseorang yang mengajarkan saya bagian dari pengetahuan mereka, bukan sekedar seseorang yang memberi penilaian dengan angka atau huruf mutu di laporan akhir studi saya, dan bukan hanya mereka yang dengan kehormatan mendapat julukan dosen. Seorang guru yang akan selalu bermakna di hati murid-muridnya adalah guru yang berhasil menjadi inspirasi bahkan motivasi bagi muridnya untuk terus berkembang. Guru yang dijunjung adalah mereka yang berhasil membuat kami sebagai muridnya berkata dalam hati, “Suatu hari aku akan jadi seseorang yang melebihi dia.”

Lalu, siapa saja guru yang telah berhasil menginspirasi saya selama hidup? Ada banyak guru dan dosen yang sampai saat ini selalu saya ingat.

Saat saya masih SD, saya sangat suka dengan guru Bahasa Indonesia. Dia seorang sarjana yang bekerja sebagai tukang kebun sekolah. Kemudian, dia berusaha agar bisa mengajar di sekolah saya dan berhasil menjadi seorang PNS. Usahanya tidak pernah sia-sia, dengan semangat tinggi ia berhasil menjadi bagian dari jajaran guru SD Yos Sudarso dan di beberapa sekolah lainnya. Hebatnya lagi, hingga dipenghujung karirnya di SD kami, setidaknya dia sudah berhasil menduduki posisi kepala sekolah. Meskipun banyak omongan-omongan miring, yang menganggap ia tidak pantas untuk jabatan sebagai kepala sekolah karena masa lalunya dulu hanya sebagai seorang tukang kebun, ia tidak pernah menanggapinya. Malahan, ia dengan gigih menunjukan hasil kerja keras dan upayanya dalam memajukan SD kami. Dari dirinya saya belajar untuk terus bermimpi dan mencoba menggapai mimpi itu tanpa pernah menyerah hanya karna omongan orang-orang yang sirik dengan apapun yang telah kita capai. Lagipula, kritikan yang tidak membangun seharusnya tidak dimasukan dalam langkah kita untuk maju.

Guru SMP yang selalu saya ingat adalah guru Agama. Bukan karena saya menyukai pelajarannya, toh, saya bukan seorang yang sangat religius. Bukan pula karna ajaran teologisnya. Beliau seorang guru yang dituakan di sekolahku saat itu. Saat saya SMP, mungkin beliau sudah hampir memasuki usia pensiun. Beliau mengabdikan sebagian besar waktu mengajarnya di SMP saya. Mulai dari awal pembukaan SMP saya, masa-masa kejayaan SMP saya, bahkan hingga saat ini mungkin SMP saya sudah dilupakan keberadaannya, beliau selalu setia pada SMP itu. Gaji yang beliau terima mungkin jauh lebih kecil dari upah beliau mengajar di sekolah-sekolah lainnya. Namun, beliau setia dan ingin mendedikasikan dirinya untuk sekolah kami. Sekarang di sekolah itu mungkin hanya ada sekitar 60 murid dari tiga angkatan yang masih menuntut ilmu disana. Kebanyakan bukan murid yang pintar dan kaya, namun mereka adalah anak-anak yang merasa masih perlu belajar dengan latar belakang ekonomi dari kelas bawah. Dan ketika semua guru-guru mulai pindah tempat mengajar karena SMP itu yang sepi murid, beliau masih tetap bertahan. “Lebih baik mengajar sedikit murid namun mereka bersungguh-sungguh ingin mendapat ilmu, daripada mengajar lebih banyak murid yang sekolah hanya untuk formalitas mendapat ijazah belaka,” katanya. Saya ingat sekali betapa beliau mendukung saya untuk masuk ke SMA favorit pilihan saya meskipun semua orang mencemooh dan meragukan kemampuan saya hanya karna saya bersekolah di SMP yang antah berantah semacam itu. Saya belajar tentang optimistis di tengah keadaan yang kurang baik dan disaat semua orang melecehkan, dari seorang guru yang sampai kapanpun akan saya ingat jasa dan dukungannya.

Di SMA, saya bersahabat baik dengan guru Biologi. Memang saya menyukai pelajaran tersebut, terlebih guru yang mengajarnya. Muda, bersemangat, namun rapuh. Saya lebih menganggapnya sebagai sahabat daripada seorang guru karena memang sikap seperti itulah yang selalu ia berikan pada saya dan teman-teman saya yang lain. Menurut saya, dia pintar, seorang lulusan dari FMIPA Biologi UNILA, dengan pengetahuan yang mendalam tentang subyek yang dia ajar, namun berkali-kali gagal mengikuti tes PNS untuk menjadi guru karena (mungkin) adanya praktik KKN di daerah saya. Sebagai guru honorer di SMAN I Terbanggi Besar, beberapa guru-guru lain menyepelekannya. Bahkan, seorang guru Fisika secara terang-terangan menyudutkan dan menjatuhkan guru Biologi saya ini karena posisi wali kelas untuk kelas saya, XI IPA 1, justru jatuh ke tangan guru Biologi saya. Awalnya, guru Fisika saya lah yang menjadi wali kelas saya, namun teman-teman saya dan saya merasa tidak cocok dengannya, dengan caranya mengajar, dan kami tidak menyukainya yang cenderung menyalahkan kelas kami daripada mencoba membela setiap kali ada masalah. Dengan kondisi seperti itu, kami jelas berontak bila ia dijadikan wali kelas, demi apapun, seorang wali kelas haruslah dia yang bisa diterima sebagai seorang guru dan sahabat. Ia pun dicopot dari jabatannya dan digantikan oleh guru Biologi saya. Guru fisika saya berang dan mengatakan bahwa seorang guru honorer tidak pantas menjadi wali kelas. Posisi guru fisika saya di sekolah memang sedikit berpengaruh, namun tidak mengentarkan guru Biologi saya dalam mengemban jabatan yang ia terima. Di penghujung akhir kelas XI, guru Biologi saya menutup jabatannya sebagai wali kelas dan juga sebagai guru di SMA kami. Ia harus mengundurkan diri karena SMA kami memangkas pemakaian guru honorer untuk memasukan guru-guru PNS baru. Saya tahu, sebelum akhirnya memutuskan pergi dari SMA kami, ia telah menerima banyak tekanan. Ia menangis menceritakan beberapa masalahnya hanya dihadapan saya. Saya sangat merindukannya, sahabat dan guru saya. Prinsip yang ia pegang, ilmu itu bukan sesuatu yang boleh dijual. Kekaguman saya padanya, doa saya untuknya, dan prinsipnya akan selalu jadi bagian dari prinsip hidup saya.

Dosen di bangku kuliah, pada umumnya selalu memberikan kata-kata inspiratif disaat mengajar, tapi jujur saja tidak selalu berhasil saya ingat. Beberapa yang saya ingat, karena menurut saya itu sangat menyentuh.

“IPK itu ibarat uang, kalau kekurangan menyusahkan, kalau kelebihan belum tentu berguna.”

“Orang Indonesia itu bisa lebih pintar dari orang Eropa, namun jiwa kerjasamanya rendah, sehingga setiap ada kompetisi yang bisa dimenangkan hanya kompetisi yang individualis, seperti olimpiade fisika, matematika…”

“Tuhan itu tidak bodoh sehingga ia tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa ada gunanya!”

Dan yang terakhir tentang kisah seorang profesor dan bapak tua tukang fotokopi. Suatu hari, dosen saya yang sangat pintar dan bergelar profesor datang ke fotokopian. Saat itu, si tukang fotokopi sedang asik mengomentari kasus korupsi di Indonesia. Tiba-tiba si bapak berkata pada dosen saya, “ibu juga ikut andil bertanggung jawab terhadap lahirnya koruptor-koruptor di Indonesia,” – mereka yang disebut koruptor adalah orang-orang yang menerima sesuatu diluar haknya- dosen saya bingung. Bapak itu melanjutkan, “apakah ibu yakin bahwa mereka yang ibu luluskan sebagai sarjana sudah mampu memberi sesuatu yang lebih kepada kami dibanding saat sebelum ia menjadi sarjana? Kalau ia tidak memberi sesuatu yang berbeda kepada kami masyarakat, lalu mengapa kami harus bayar lebih mahal untuk seorang sarjana. Lebih baik seorang tukang sapu jalan yang bisa memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,”. Dari situ dosen mulai berpikir dan menyadari, bila seorang mahasiswa belajar dengan tidak sungguh-sungguh, dosa terbesar yang ditanggung mahasiswa ada pada masyarakat karena sebagian besar uang operasional di kampus untuk perkuliahan berasal dari uang rakyat. Oleh karena itu, seorang mahasiswa harus bisa bersungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan belajarnya untuk bekalnya melakukan pengabdian masyarakat setelah ia sarjana. Jadi, terkadang saya juga seorang koruptor ketika kuliah tidak sungguh-sungguh sehingga pulang tanpa membawa ilmu apapun, disaat tidur di kelas, bahkan disaat titip absen ke teman-teman. Haha, harus mulai berubah dan jadi mahasiswa yang sungguh-sungguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s