Susu dalam Berbagai Perspektif Kesehatan dan Gizi

Susu dianggap sebagai sumber kalsium terbaik karena nilai biologis penyerapan kalsium susu dalam tubuh lebih tinggi dibandingkan sumber-sumber kalsium dari makanan lainnya. Tingginya tingkat penyerapan kalsium susu dalam tubuh disebabkan adanya  kasein, sejenis  protein susu, yang membantu penyerapan susu ke dalam tubuh. Efisiensi penyerapan zat gizi, termasuk kalsium, dari susu hampir mencapai 100%, sehingga hanya dengan mengkonsumsi 2-3 gelas susu per hari dapat memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) kalsium harian pada orang dewasa. Jumlah kalsium yang terkandung dalam 2-3 gelas susu sekitar 1250-1875 mg, sedangkan AKG kalsium harian bagi usia remaja adalah 1300 mg. Hal ini menyebabkan susu sangat direkomendasikan sebagai sumber kalsium.

Banyak yang berpendapat bahwa susu dapat mencegah osteoporosis karena membantu meningkatkan kepadatan tulang dan memperbaiki cadangan mineral tulang yang hilang. Seperti yang diketahui, tulang sebagian besar tersusun atas kalsium dan fosfor. Kedua mineral tersebut banyak terkandung dalam susu sapi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa wanita remaja putri yang mengkonsumsi 2 gelas susu per hari memiliki tingkat kepadatan tulang yang baik. Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar. Osteoporosis tidak hanya dikaitkan dengan kepadatan tulang dan jumlah simpanan kalsium, tapi juga berhubungan dengan kehilangan kalsium dari tulang. Seorang remaja putri yang memiliki aktivitas fisik yang baik memiliki kepadatan tulang yang baik pula, tidak serta merta dikaitan dengan konsumsi susu sebagai sumber kalsiumnya.

“A July 2000 study of young women published in the journal Pediatrics found that bone density was significantly affected by the amount of physical activity in teen years while increased calcium intake made no differenc,” –The Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM)

Propaganda yang dilakukan industri susu tentang manfaat susu dalam mencegah osteoporosis sangat berlebihan dan  menimbulkan kesalahpahaman publik. Seorang dokter, Hiromi Shinya, di Jepang dalam bukunya The Miracle of Enzyme juga mengungkapkan bahwa mengkonsumsi susu bahkan dapat meningkatkan resiko osteoporosis. Hal ini dapat dijelaskan dengan mekanisme susu dalam meningkatkan kalsium tubuh. Susu tinggi akan konsentrasi kalsium sehingga ketika dikonsumsi akan menyebabkan kalsium dalam darah meningkat. Sistem homeostatis tubuh akan mengkompensasi peningkatan kalsium secara signifikan tersebut dengan berusaha menurunkan kadar kalsium secepat mungkin. Penurunan kadar kalsium tersebut justru memicu terjadinya kehilangan kalsium dalam darah secara mendadak. Ketidakseimbangan ini akan mendorong hormon calcitonin untuk mengeluarkan kalsium dari tulang menuju ke darah untuk menormalkan kembali kadar kalsium darah yang hilang. Mekanisme inilah yang disebut-sebut dapat mendorong terjadinya osteoporosis pada orang-orang yang rutin meminum susu.

Susu tinggi kalsium yang dikonsumsi oleh orang-orang diatas usia 40 tahun juga tidak membantu menekan resiko osteoporosis karena pada usia tersebut cadangan kalsium dan tingkat kepadatan tulang tidak bertambah. Pada usia 20-25 tahun, tulang mencapai kepadatan maksimumnya, selanjutnya akan terjadi deplesi tulang secara kontinu dengan kecepatan yang akan meningkat seiring pertambahan usia. Kepadatan tulang maksimum yang dicapai pada usia muda tersebut akan digunakan sebagai cadangan di masa tua, sehingga bila ingin mencegah osteoporosis kepadatan tulang harus ditingkatkan sebelum usia tersebut dengan memperbanyak aktivitas fisik dan mencukupi kebutuhan kalsium harian.

Suatu wacana terbaru tentang susu yang menyebabkan kanker juga banyak beredar. Susu dapat dihasilkan secara maksimal dari sapi betina yang sedang hamil trimester terakhir dan saat sedang menyusui. Padahal, pada masa tersebut jumlah hormon esterogen dalam tubuh sapi betina cukup tinggi. Hormon ini juga ikut terkandung dalam susu yang disekresikan kelenjar mamae sapi betina tersebut. Alhasil, produk susu yang dihasilkan juga akan tinggi esterogen dan apabila dikonsumsi secara rutin dapat memicu terjadinya kanker payudara, prostat dan testis yang diakibatkan oleh kelebihan hormon esterogen yang terakumulasi dalam tubuh.

Di Tiongkok, perusahaan susu Mengciu juga diklaim telah menghasilkan susu beracun yang bersifat karsinogenik. Susu tersebut mengandung aflatoksin, sejenis racun yang dihasilkan oleh kapang yang tumbuh pada biji-bijian seperti kacang polong, jagung, dan gandum. Racun tersebut masuk ke dalam susu sapi karena sapi yang diternak telah diberi pakan busuk yang mengandung aflatoksin. Sebelumnya, sempat terjadi kasus pencampuran melanin dalam susu untuk meningkatkan kadar nitrogen saat analisis protein. Hal tersebut menyebabkan banyak bayi dan balita Cina mengalami kerusakan ginjal. Susu memang bergizi namun mudah tercemar racun. Oleh karena itu, konsumsi susu harus dilakukan dengan hati-hati dan dilakukan seperlunya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s