Perempuan : Senjata Pemberantas Gizi Buruk

Image

Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang membawa bahagia bagi dirinya.”  –R. A. Kartini (1901)

Dewasa ini, arah pembangunan di Indonesia telah mengacu pada Millenium Development Goal’s (MDGs) 2015. Komitmen Indonesia untuk mencapai MDGs mencerminkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan memberikan kontribusi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia. Sampai dengan tahun 2010 ini, Indonesia telah mencapai berbagai sasaran dari Tujuan Pembangunan Millenium.

Salah satu sasaran MDGs yang tengah gencar dicapai oleh Indonesia adalah menurunkan prevalensi kasus gizi buruk pada anak – anak di Indonesia. Data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan Indonesia menunjukkan prevalensi gizi buruk di Indonesia sejak 2005 hingga 2010 terus mengalami penurunan. Tercatat pada tahun 2005 terjadi penurunan prevalensi gizi buruk dari 9,7% menjadi 4,9% di tahun 2010. Penurunan prevalensi gizi buruk ini diharapkan menjadi sinyal positif untuk mencapai target MDGs, yaitu menekan prevalensi gizi buruk menjadi 3,6% di tahun 2015.

Menurut United Nations Children Fund’s (UNICEF), terdapat dua penyebab langsung gizi buruk, yaitu intake zat gizi (dari makanan) yang kurang dan adanya infeksi. Kedua penyebab langsung tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor yang merupakan penyebab tidak langsung, yaitu ketersediaan pangan keluarga yang rendah akibat dari rendahnya pendapatan keluarga, perilaku kesehatan (termasuk pola asuh atau perawatan ibu dan anak) yang tidak benar, serta pelayanan kesehatan dan lingkungan yang buruk. Gangguan pertumbuhan dan penyakit akibat kurang gizi dengan efek potensial tidak hanya akan mengurangi kualitas hidup tetapi juga dapat berakibat fatal, serta sangat menguras kontribusi negara terhadap jutaan anak dan meningkatnya biaya kesehatan. Oleh sebab itu, penurunan prevalensi gizi buruk menjadi target penting yang harus dicapai untuk pembangunan suatu negara.

Masalah gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia yang terjadi pada anak-anak balita bukanlah peristiwa yang terjadi seketika, karena umumnya anak gizi buruk sudah bermasalah sejak dari dalam kandungan ibunya, “Mereka lahir sebagai anak yang kesekian dari seorang ibu yang mengalami kekurangan gizi”, bayi yang lahir dari ibu yang kekurangan gizi akan mengalami hambatan pertumbuhan sejak dalam kandungan dan berdampak pada berat badan lahir rendah (BBLR). Penyebab gizi buruk juga bukanlah sebatas keterbatasan ibu memberikan makanan kepada anaknya, namun proses ini dimulai dari awal bayi terbentuk dalam kandungan ibunya. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan, khsususnya ketika menjadi ibu memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam tumbuh kembang anak-anaknya.

Perempuan memegang dua peranan dalam kehidupan nyata, yaitu peran tradisi dan transisi. Peran tradisi atau domestik mencakup peran wanita sebagai istri, ibu dan pengelola rumah tangga. Sementara peran transisi meliputi pengertian wanita sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat dan manusia pembangunan. Sebagai manusia pembangunan, seorang perempuan yang berperan sebagai ibu harus memiliki bekal pendidikan di bidang gizi untuk mencegah kesalahan dalam proses perawatan dan pengasuhan anak yang dapat menyebabkan terjadinya kasus gizi buruk.

Dalam rangka meningkatkan keterampilan perempuan sebagai seorang ibu dalam memberikan gizi seimbang selama masa pertumbuhan dan perkembangan anak, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Indonesia bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemberdayaan masyarakat telah melakukan berbagai penyuluhan ke desa – desa dengan membidik kaum ibu sebagai sasaran penyuluhan.

“Perempuan sebagai ibu rumah tangga merupakan penggerak yang menentukan menu makanan yang akan dikonsumsi oleh anggota keluarga yang lain, sehingga penting sekali diberikan pengetahuan tentang gizi seimbang. Oleh karena itu, program penyuluhan tentang makanan yang beragam, berimbang, dan bergizi, umumnya diberikan kepada para ibu sebagai targetnya,” ungkap Ir. Gayatri Karyawati Rana, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi & Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI, saat ditemui dalam program “Internalisasi Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dalam Kurikulum dan Pengembangan Kantin/Warung Pangan Beragam, Bergizi, Berimbang (3B) dan Aman” di SMP Negeri 4 Bogor pada hari Sabtu, 25 Febuari 2012.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga terus melakukan upaya-upaya peningkatan pemberian air susu ibu (PP-ASI), khususnya ASI ekslusif 6 bulan karena upaya ini dianggap strategis dalam peningkatan gizi pada anak yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas SDM dan diharapkan dapat menurunkan prevalensi kasus gizi buruk di Indonesia. Upaya-upaya yang telah diakukan diantaranya, penyebaran komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang peningkatan pemberian ASI (PP-ASI), yang dilakukan melalui kampanye Pekan ASI se-Dunia yang dilaksanakan setiap tahun, yakni pada awal bulan Agustus. Kegiatan lainnya adalah mendorong dan memfasilitasi fasilitas umum untuk menyediakan ruang menyusui serta berupaya mendorong dan memfasilitasi perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja perempuan untuk menyediakan “Ruang Menyusui” dan memberikan waktu untuk memerah ASI nya pada jam kerja. Selain itu, diterbitkan juga Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pedoman 10 (sepuluh) Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui, hal ini dimaksudkan untuk mendorong fasilitas kesehatan untuk melaksanakan 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui.

Semua langkah yang disusun untuk mencapai target pembangunan Indonesia dalam menurunkan prevalensi gizi buruk pada anak ditujukan pada pemberdayaan perempuan sehingga dapat terlihat sekali besarnya peran seorang perempuan dalam memberikan kontribusinya bagi pembangunan. Seorang perempuan yang paham akan pengetahuan gizi dapat mengasuh dan merawat anaknya dengan baik sehingga mencegah terjadinya kasus gizi buruk. Dari tangan seorang perempuan yang paham akan masalah gizi dalam kaitannya bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak akan lahir calon – calon penerus bangsa dengan kualitas SDM yang baik pula. Penerus bangsa inilah yang kelak akan sangat potensial bagi pembangunan suatu negara. Oleh karena itu, perempuan hendaknya mendapat pendidikan gizi yang memadai untuk mendorong peningkatan peran perempuan dalam membangunan Indonesia. Seperti yang diambil dari kutipan surat R. A. Kartini, pendidikan dan pengetahuan harus diberikan pada perempuan demi perubahan besar Indonesia kearah yang lebih baik. (kom/agt)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s