Diet bagi Penderita Leukemia

“Siapa bilang gizi tidak banyak kaitannya dengan kesehatan! Siapa bilang salah gizi tidak sama bahayanya dengan salah obat!”


 

 

Leukemia terdiri atas dua jenis, yakni Myeloid dan Lymphoblastic, yang bisa bersifat akut maupun kronik. Leukemia jenis Myeloid menyerang sumsung tulang belakang, sehingga pada penderita AML (Acute Myeloid Leukemia) maupun CML (Chronic Myeloid Leukimia) akan terjadi gangguan pembentukan sel darah, baik itu sel darah merah, sel darah putih, maupun trombosit. Kondisi tersebut memicu terjadinya kondisi anemia (kurangnya produksi sel darah merah), trombositopenia (kurangnya produksi trombosit) dan leukopenia (kurangnya produksi sel darah putih). Produksi trombosit yang rendah menyebabkan penderita rentan terhadap pendarahan. Sel darah penderita Myeloid Leukimia akan ditemukan adanya Auer Rods. Sedangkan, kondisi Lymphoblastic Leukemia, sel kanker menyerang bagian diluar sumsum tulang belakang, dan berkaitan dengan pembentuk sel beta.

Selain itu, ada pula kondisi pre-leukemia, yakni Myelodysplastics Syndrome (MDS). Myelodysplastic syndromes (MDS) merupakan gangguan pada produksi sel darah yang terjadi di sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang merupakan jaringan tipis yang terletak di tengah tulang manusia dan berfungsi untuk memproduksi sel darah. Sumsum tulang belakang penderita MDS akan memproduksi sel darah secara abnormal, dimana sel darah yang dihasilkan bersifat immature dan dalam perjalanannya sel darah tersebut akan mengalami kegagalan pematangan sehingga saat memasuki aliran darah tidak dapat berfungsi secara sempurna. Sel darah yang tidak matang atau immature tersebut dikenal dengan nama blast cell. Saat memasuki sistem peredaran darah, blast cell akan dipecah, sehingga mengakibatkan kadar sel darah penderita MDS berada dibawah normal. Sel darah yang jumlahnya dibawah normal bisa terdiri atas satu jenis sel darah saja atau bisa pula terdiri atas beberapa jenis sel darah. Ada tujuh tahapan atau stadium dalam MDS menurut WHO, yakni :

1. Refractory cytopenia with unilineage dysplasia (RCUD)
2. Refractory anemia with ringed sideroblasts (RARS)
3. Refractory cytopenia with multilineage dysplasia (RCMD)
4. Refractory anemia with excess blasts-1 (RAEB-1)
5. Refractory anemia with excess blasts-2 (RAEB-2)
6. Myelodysplastic syndrome, unclassified (MDS-U)
7. Myelodysplastic syndrome associated with isolated del(5q)

MDS RAEB II merupakan suatu kondisi yang menunjukan kadar sel darah penderita berada dibawah normal untuk satu atau lebih jenis sel darah dan produksinya di sumsum tulang belakang juga tampak tidak normal. Penderita MDS RAEB II memproduksi 10 – 20% lebih banyak blast cell di sumsum tulang dibandingkan penderita MDS RAEB I. Sekitar 5 hingga 19% sel darah yang diproduksi penderita MDS RAEB II merupakan blast cell dan blast cell kemungkinan berisi Auer Rods (gumpalan material granular azurophilic yang membentuk jarum memanjang terlihat dalam sitoplasma blast leukemia). Penderita MDS RAEB II beresiko 50% lebih besar untuk berkembang menjadi AML (Sanz et al. 1989).

Resiko MDS tinggi pada orang yang sering terpapar zat kimia, rokok dan juga radiasi. Pada pasien kanker yang menjalani penyembuhan dengan metode radiasi biasanya beberapa tahun kemudian akan terserang MDS. Hal tersebut dinamakan MDS sekunder atau MDS terkait pengobatan.

Myelodysplastic syndrome (MDS) mengacu pada sekelompok gangguan heterogen yang berkaitan erat dengan gangguan hematopoietik klonal. MDS ditandai dengan hypercellular atau hiposeluler sumsum dengan gangguan morfologi dan pematangan (dysmyelopoiesis) serta cytopenias darah perifer, akibat produksi sel darah tidak efektif. Semua jenis sel darah dalam hematopoiesis myeloid dapat terlibat, termasuk eritrosit, granulosit, dan baris sel megakaryocytic. Meskipun klonal, MDS dianggap sebagai kondisi premalignant dalam subkelompok pasien yang sering berkembang menjadi akut leukemia myelogenous (AML) ketika kelainan genetik tambahan diperoleh (Sanz et al. 1989).

Pada sindrom myelodisplastic, sumsum tulang belakang lebih banyak memproduksi sel blast atau sel darah yang belum matang. Blast tidak dapat berfungsi layaknya sel darah normal sehingga ketika memasuki peredaran darah sel blast akan dihancurkan. Seluruh sel tubuh mahluk hidup mengandung DNA dan RNA, dimana ketika terjadi perombakan sel maka basa purin yang terkandung dalam DNA dan RNA sel tersebut akan menghasilkan produk akhir yang dikenal dengan nama asam urat. Peningkatan jumlah sel blast yang dirombak pada penderita leukimia berakibat pula pada peningkatan asam urat dalam darah. Selain itu, kemoterapi yang menyebabkan kerusakan sel, baik pada sel kanker maupun sel normal, akan menyebabkan peningkatan kadar asam urat sebagai manifestasi akhirnya (Hurst 2008).

Diet Leukemia

Berdasarkan penjelasan diatas, diketahui bahwa kanker darah pun bisa menyebabkan berbagai gangguan lain, baik anemia hingga asam urat, sehingga pada intervensi gizi yang hendak direncanakan bagi penderita kanker darah ini tidak semata – mata hanya mementingkan kondisi kankernya saja, namun juga mempertimbangkan adanya kemungkinan efek lain yang akan timbul terkait penyakit tersebut. Pada prinsipnya, penderita kanker harus menjalani diet Tinggi Energi dan Tinggi Protein, hal ini guna mengimbangi kebutuhan energi dan protein yang juga ikut meningkat seiring adanya perkembangan kanker dalam tubuh. Sel kanker ibarat suatu parasit dalam tubuh, ia akan menyedot dan menggunakan zat – zat gizi yang seharusnya untuk kebutuhan tubuh secara normal. Zat –  zat gizi tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan sel kanker itu sendiri, sehingga apabila asupan zat gizi penderita kanker kurang, sel – sel kanker tersebut akan menggunakan cadangan energi dan protein dalam tubuh dan lambat laun menyebabkan penurunan berat badan hingga kondisi kurang gizi atau disebut kaheksia.

Berbicara tentang leukimia, seperti yang dijelaskan sebelumnya, penyakit yang satu ini bisa membuat penderitanya mengalami peningkatan asam urat, meskipun belum tentu akan berkembang dan menimbulkan gejala Gout. Meski demikian, kondisi tersebut tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Untuk mencegah peningkatan asam urat yang berlebihan, penderita leukimia akan diberikan obat alupurinol guna menurunkan asam uratnya, namun ada baiknya hal tersebut juga didukung dengan diet rendah purin guna mendukung efek obat. Diet rendah purin mengharuskan penderita leukemia membatasi konsumsi makanan berpurin sedang hingga tinggi, misalnya tahu tempe, sayuran berdaun hijau, makanan laut, kacang – kacangan, dan juga jeroan.

Ada satu lagi yang khas dari diet bagi penderita leukimia, yakni adanya pembatasan asam folat. Penggunaan folat masih dipertentangkan dalam kasus leukimia, baik jenis lymphoblastik maupun myeloid leukimia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan perkembangan kanker, sementara pada populasi lain, defisiensi asam folat justru bisa menghambat perkembangan kanker. Penelitian yang dilakukan Koury et al. (1997) menemukan bahwa defisiensi asam folat justru bisa mempercepat perkembangan menuju AML (Acute Myeloid Leukimia) terutama pada pasien yang berisiko tinggi mengidap penyakit ini. Namun, hal bertentang ditemukan oleh Sydney Farber pada tahun 1948. Beliau melihat bahwa suplementasi asam folat pada anak – anak penderita Anemia Perniciousa karena kekurangan vitamin B12 dapat diatasi dengan pemberian asam folat. Asam folat dapat membantu mengurangi produksi blast pada penderita Anemia Perniciousa. Kemiripan gejala antara Anemia Perniciousa dengan leukimia dalam hal produksi blast membuat Farber mencoba untuk menggunakan terapi asam folat pada pasien anak pengidap ALL (Acute Lymphoblastic Leukimia). Hasil mengejutkan ditemukan bahwa pasien anak tersebut justru semakin bertambah parah dengan pemberian suplementasi asam folat. Hal tersebut kemudian membawa pengobatan leukimia ke era baru dimana kemoterapi bagi penderita leukimia dilakukan dengan pemberian antifolat, aminopterin.
Penelitian terkait asam folat dengan perkembangan kanker belum sepenuhnya jelas. Pada penderita kanker kolorektal, suplementasi folat dapat menurunkan proliferasi adenoma dan kemungkinan dapat mencegah munculnya adenoma di masa depan. Penelitian Young In Kim pada tahun 2008 menyimpulkan bahwa pada jaringan normal asam folat dapat mencegah dan menghambat timbulnya sel neoplastik, namun pada kondisi preneoplastik dan neoplastik, asam folat akan mendorong proliferasi lesi kanker. Oleh karena itu, pemberian suplemen asam folat tidak direkomendasikan sebagai kemopreventif.
Sumber bahan makanan yang mengandung sedikit sekali asam folat adalah daging (secara umum), susu, telur, buah – buahan dan umbi. Bahan makanan yang mengandung folat dalam jumlah tinggi adalah kacang – kacangan, daun – daunan berwarna hijau (folat berasal dari bahasa latin “folium” berarti daun), seperti bayam, asparagus dan brokoli. Pemasakan dengan temperatur tinggi dapat menurunkan kadar folat, misalnya susu bubuk memiliki kadar folat yang lebih kecil dibandingkan dengan susu cair, karena pemanasan dapat merusak asam folat (Piliang dan Soewondo 2006).

Referensi :

Hurst Marlene. 2008. Pathophysiology Reviews. US : Mc Graw Hill.

Koury MJ, Park DJ, Martincic D, Horne DW, Kravtsov V, Whitlock JA, del Pilar Aguinaga M, dan Kopsombut P. 1997. Folate deficiency delays the onset but increases the incidence of leukemia in Friend virus-infected mice. Blood 90(10) : 4054 – 4061.

Sanz GF, Sanz MA, Vallespi T et al. 1989.Two regression models and a scoring system for predicting survival and planning treatment in myelodysplastic syndromes: a multivariate analysis on prognostic factors in 370 patients. Blood 74 : 395 – 408

Young In Kim. 2008. Folic Acid Supplementation and Cancer Risk: Point. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 17: 2220.

Piliang Wiranda G & Soewondo Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume II. Bogor : IPB Press.

 

Tumor Jinak VS Tumor Ganas

Persiapan menuju ID (Internship Dietetik) alias magang di Rumah Sakit dimulai dengan mencari – cari info tentang berbagai penyakit, khususnya kanker, yang akan banyak ditemui di Rumah Sakit Kanker Dharmais, lokasi ID saya selama 3 minggu. Oke, ini sedikit info yang berhasil saya dapatkan dari “iseng – iseng” membaca buku tentang penyakit dalam karangan Sholeh S. Naga (2012).

Normalnya, tubuh manusia akan melakukan pembelahan sel melalui mekanisme mitosis untuk menggantikan sel – sel tubuh yang rusak. Tujuan dari pembelahan itu sendiri adalah untuk mempertahankan jumlah sel yang ada dalam tubuh manusia. Sayangnya, apabila pembelahan sel yang terjadi tanpa tujuan yang jelas dan jumlahnya menjadi sangat banyak hingga tak terkendali akan menimbulkan tumor. Di semester awal, saya sempat mendapat ilmu bahwa tumor itu dalam istilah kedokteran untuk benjolan. Kadang – kadang infeksi juga bisa menyebabkan “tumor” , misalnya saja bisul atau jerawat, karna itu merupakan bagian dari mekanisme imunitas tubuh melawan serangan benda – benda asing. Oleh karna itu, tumor itu bisa bersifat jinak (benigna) maupun ganas (maligna).

Tumor ganas merupakan pemicu kanker. Dikatakan ganas karena pembelahan sel dalam kasus tumor ganas sangat banyak hingga tak terhingga, dan tentunya tanpa tujuan yang jelas, sehingga akan membentuk suatu struktur tertentu (seperti benjolan dan menambah massa tumor) atau bisa juga tidak (misalnya pada kasus karsinoma anaplastik a.k.a kanker kulit). Bahayanya lagi, tumor ganas alias kanker memiliki kemampuan untuk menginvasi jaringan disekitarnya maupun jaringan yang jauh dari habitatnya (melalui mekanisme metastasis) sehingga menimbulkan kerusakan pada sel yang sehat. Tidak tanggung – tanggung, sel kanker pun bahkan tidak segan merusak jaringan pembuluh darahnya sendiri yang notabenenya bertugas memberi asupan gizi ke sel kanker tersebut. Kemampuan sel kanker menembus dinding sel pembuluh darah dan limfa sehingga ikut aliran darah atau limfa ke tempat yang jauh dari asal tumbuhnya disebut metastasis. Selain itu, sel kanker juga memliki kemampuan untuk menginfiltrasi ke dalam sel – sel sehat dan bernaung diantara sel – sel tersebut, sehingga ketika dilakukan operasi pengangkatan tumor, sel – sel kanker yang berhasil menginfiltrasi atau masuk ke dalam sel – sel sehat kemungkinan akan tertinggal dan dapat tumbuh lagi sesudah operasi. Hal tersebut dikenal dengan istilah rekurent lokal, inilah biang kerok yang menyebabkan gagalnya operasi tumor ganas. 

Berbeda dengan tumor ganas, tumor jinak tidak memiliki kemampuan untuk menginvasi ataupun menginfiltrasi ke sel sehat. Tumor jinak biasanya diselubungi oleh semacam kapsul yang tersusun atas jaringan ikat yang sangat kuat, sehingga sel tumor jinak tersebut tidak bisa menyebar kemana – mana, karena tidak punya kemampuan masuk ke aliran darah dan limfe alias tidak bisa bermetastasis. Biasanya pada tindakan operasi bedah, dokter akan berusak merobek jaringan ikat tersebut dan mengeluarkan sel tumor yang bernaung didalamnya. Meskipun tidak punya kemampuan invasi, metastais maupun infiltrasi, tetap saja tumor jinak tidak bisa dikatakan tidak berbahaya. Apabila sel tumor jinak tumbuh dan membesar di daerah organ vital, sebut saja jantung, tentunya bisa membahayakan nyawa.

Kanker atau tumor ganas memiliki banyak macam, dikutip dari http://www.dharmais.co.id jenis kanker mencapai hingga lebih dari 100 macam. Namun untuk penamaannya, tumor ganas dinamakan sesuai dengan jaringan asalnya, misalnya tumor dari jaringan epitel dinamakan karsinoma, dari jaringan ikat dinamakan sarkoma sementara dari kelenjar limfa dinamakan limfoma. Kadang – kadang sel kanker tumbuh dan berkembangbiak (berproliferasi) tanpa mengubah struktur inangnya, misalnya pada kanker pankreas masih terlihat sel kanker membentuk saluran atau duktus yang berisi sekreta, dan kanker tersebut dinamakan adenokarsinoma. Atau pada kanker kulit, sel kanker yang terbentuk berupa sel pipih gepeng yang berproliferasi tanpa membentuk struktur tertentu yang terlihat jelas, namun jenis kanker ini lebih berbahaya dan progresif.

Apapun jenisnya, tumor atau benjolan yang tumbuh diorgan tubuh lebih dari satu bulan dan tidak menghilang juga sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk dilakukan biopsi agar kita bisa mengetahui apakah itu jenis tumor jinak atau ganas, atau hanya tumor akibat peradangan sebagai reaksi imunitas alami tubuh melawan infeksi. Be aware with your body! =)

Referensi :

http://www.dharmais.co.id

Naga, Sholeh S. 2012. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Diva Press : Jakarta

Konsultasi Gizi

Konsultasi Gizi menurut Robert Lee dan David Nieman merupakan proses diagnosa dan intepretasi permasalahan gizi yang dialami klien serta merekomendasikan alternatif penyelesaian masalah tersebut.

Konsultasi Gizi menurut Prof. Hardinsyah merupakan ilmu dan seni dalam memberikan pelayanan secara profesional kepada klien yang memiliki masalah gizi dan gangguan makan guna mencari alternatif pemecahan masalah tersebut sesuai dengan harapan dan keunikan klien.

Konsultasi Gizi sendiri bisa diartikan sebagai kegiatan dialog profesional dalam setting pribadi untuk memperoleh pendapatan dan saran solusi masalah gizi.

Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan konsultasi gizi dalam istilah “Konsultasi” dan “Konseling”.

Konsultasi merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa kegiatan untuk memperoleh pendapat dan saran berasal dari permintaan klien, sehingga pendekatan ini bisa disebut sebagai bagian dari perspektif klien.

Konseling merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa kegiatan untuk memperoleh pendapat dan saran berasal dari cara pandang konselor.

Konselor adalah orang yang secara profesional mampu memberikan saran dan pendapat. Oleh karena itu, pendekatan ini bisa digunakan dalam perspektif pihak yang memberikan pelayanan atau konselor.

Klien sendiri merupakan seseorang membutuhkan pendapat dan saran dari konsultan atau konselor.

Mengapa konsultasi gizi menjadi penting untuk dilakukan?

1. Berkembangnya IPTEK terkait gizi belum tentu dapat dipahami oleh semua orang, sehingga sebagai bagian dari etik seorang ahli gizi perlu melakukan penyebaran informasi terkait perkembangan IPTEK gizi agar bisa diterapkan oleh semua orang demi kemaslahatan masyarakat.

2. Setiap individu bersifat unik dan memiliki masalah gizi yang bervariasi sehingga memerlukan solusi pemecahan masalah gizi yang bersifat individual. Solusi tersebut bisa diperoleh melalui konsultasi gizi, tentunya secara individu.

3. Peningkatan demand akan pentingnya gizi serta menguatnya kebijakan Paradigma Sehat meningkatkan kebutuhan dan permintaan akan informasi terkait gizi dan kesehatan, sehingga demand penyelenggaraan konsultasi gizi pun ikut meningkat.

4. Pergeseran tren penyakit dari infeksi ke penyakit non-infeksi, yang disebabkan oleh perilaku makan dan gaya hidup, ikut mendorong peningkatan demand penyelenggaraan konsultasi gizi.

5. Kondisi ekonomi yang membaik serta kemudahan akses informasi membuat masyarakat meningkatkan permintaan untuk mendapatkan informasi gizi melalui jasa konsultasi gizi di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

6. Melihat dari analogi perkembangan praktek dokter keluarga di daerah perkotaan, bukan tidak mungkin di masa depan keluarga di perkotaan juga akan memilih melakukan konsultasi gizi agar riwayat gizi setiap anggota keluarga bisa didokumentasikan dengan baik.

Apa saja komponen konsultasi gizi?

Ada enam komponen utama dalam penyelenggaraan konsultasi gizi, yaitu klien, konsultan, komunikasi, waktu, pelayanan+sarana+acuan, serta masalah dan solusinya.

Klien

1. Mempunyai masalah

2. Memiliki harapan

3. Mempunyai kesempatan

4. Perlu dukungan akses

Konsultan

1. Penguasaan ilmu

2. Keterampilan

3. Kepribadian

4. Penampilan

Komunikasi

1. Prolog – (Apresiasi)

2. Memahami masalah

3. Memahami harapan

4. Mendengarkan

5. Memberi kesempatan

6. Memberi tanggapan

7. Memberi solusi

8. Epilog – (Apresiasi)

Waktu

Biasanya konsultasi gizi dilakukan antara 5 – 30 menit (terdiri dari prolog hingga epilog) tergantung masalahnya. Harus diatur pula cara melakukan appointment dan jadwal untuk melakukan konsultasi gizi.

Pelayanan

1. Kenyamanan

2. Keramahan

3. Kecepatan

4. Ketepatan

5. Keberlanjutan

6. Imbalan

7. Bonus

8. Promosi

Sarana

1. Tempat dan suasana

2. Acuan

3. Alat hitung

4. Alat ukur

5. Alat atau media komunikasi

Acuan

1. Pengukuran

2. Penilaian (CoP)

3. Kemungkinan sebab – akibat

4. Akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi

5. Pangan sumber zat gizi

6. Diet

7. FAQ

Masalah

1. Masalah Utama

2. Masalah Penyerta

3. Kategori masalah

4. Faktor risiko

Solusi

1. Solusi Utama

2. Solusi Penyerta

3. Perencanaan

4. Motivasi

Prinsip – prinsip utama dalam melakukan konsultasi gizi

Prinsip pelayanan terpusat klien

a. Hubungan antara konsultan dan klien digunakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya sesuai dengan harapan

b. Hubungan konsultan dengan klien tidak seperti hubungan atasan dengan bawahan (superior – inferior) namun sejajar. Klien pun tidak perlu diinstruksikan dan diberi sanksi karena pada dasarnya klien sudah memiliki kelebihan dan kebolehan, sehingga sebagai konsultan perlu untuk memperkuat atau memperkukuhnya.

c. Hubungan antara konsultan dan klien didasarkan pada dua hal, yaitu saling menghargai (respect) dan saling percaya (trust)

Prinsip memperoleh informasi

a. mempersiapkan instrumen (formulir, acuan, alat dan komputer)

b. melalui berbagai cara (membaca, bertanya, mendengar [hearing, attending, understanding, remembering/recording, evaluating and monitoring], pengamatan klinis dan/ anamnesa, metode penilaian dan pengukuran, menganalisis dan menghitung)

c. percaya pada informasi yang diberi klien

d. menjaga kerahasiaan informasi dari klien.

Prinsip memberi solusi dan motivasi

a. berbasis bukti ilmiah

b. dimulai dari alternatif

c. yang paling sesuai dengan kondisi klien

d. menghindari atau netral terhadap isu – isu kontroversial

e. menjelaskan sisi positif dan negatif dari solusi yang diberikan

f. memberikan tips atau kiat

g. membangun suasana dan kondisi agar klien termotivasi

h. memperkuat kelebihan klien (pujian)

Prinsip membina hubungan

a. menyediakan tempat dan suasana yang menyenangkan bagi klien

b. menyediakan media yang dapat memperkuat hubungan (kartu nama dan leaflet)

c. memberikan keunikan pelayanan bagi klien (via kemitraan)

d. apresiasi kedatangan

e. empati dan kehangatan konsultasi

f. mengajak ke konsultasi selanjutnya

g. mengajak ke acara – acara yang diadakan klinik (seminar atau demo)

h. menghargai dan percaya klien

Konsultasi gizi juga perlu memahami cultural competence. Sebagai profesional harus memahami efek budaya terhadap kesehatan.
Cultural Competence memerlukan 3 hal : Attitude, Knowledge an Skill.

Attitude : Hal pertama yang kita pelajari dalam budaya kita dan mempengaruhi kebiasaan kita

Knowlegde : Be cautious of generalization

Skill : mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan yang dibatasi oleh nilai budaya

Strategy for Cultural Competent Counseling :

1. Open-ended question

2. Client-centered framework of comunication

3. Openess and listening to experiences, valuing client expertise, and being sensitive to difference.

4. Considering what strenght you have to bring to the counseling situation

5. Build on them

Jenis – Jenis Konsultasi Gizi

1. Konsultasi Gizi via tatap muka

2. Konsultasi Gizi via Telepon

3. Konsultasi Gizi via Media (Radio/TV, media cetak, internet)

Konsultasi Gizi Tatap Muka

Dilakukan secara tatap muka, bisa terjadwal atau pun tidak, dan biasanya dilakukan selama 15 sampai 30 menit sesuai dengan masalahnya. Tempat prakteknya pun disetting pribadi dengan suasana yang nyaman dan menarik, namun tetap mudah diakses.

Ciri – ciri konsultasi gizi tatap muka :

1. Pendaftaran dilakukan lewat telepon atau secara langsung

2. Clinic record

3. Pengamatan klinis dan / anamnesa

4. Duduk bertatap muka dengan klien dengan dibatasi meja atau meja diletakkan disamping

5. Dialog mendalam

6. Menerapkan prinsip BIAR TUNTAS

7. Bisa dilanjutkan dengan konsultasi gizi via telepon.

Konsultasi Gizi via Telepon

Diskusi tanpa tatap muka yang dilakukan selama 5 sampai 30 menit sesuai dengan masalah, menggunakan telepon yang dilengkapi dengan recording, mudah diakses, suara bersih tidak terpolusi dan ada musik intermezzo jika layanan sibuk.

Ciri – ciri konsultasi gizi via telepon :

1. Pendaftaran dilakukan via telepon

2. Type recording

3. Dialog mendalam

4. Tidak bisa 100 persen menerapkan prinsip BIAR TUNTAS

5. Bisa dilanjutkan dengan konsultasi via tatap muka.

Konsultasi Gizi di Media

Bentuk media yang digunakan bisa media cetak dan media elektronik. Bentuk penyajiannya bisa tulisan, dialog tertutup (dari rekaman kaset di radio TV atau twitter terjadwal), dialog terbuka. Waktunya bisa berkala (media cetak berkala dan media elektronik broadcast berkala) maupun tidak berkala (media cetak berkala dan advertising, media elektronik broadcast dan non-broadcast).

Ciri – ciri konsultasi gizi di media :

1. Kesempatan (waktu dan ruang) amat terbatas

2. Sulit terlalu pribadi (penyamaran identitas)

3. Sering tidak terstruktur (pro-aktif klien)

4. Sulit menelusuri informasi klien yang tidak lengkap

5. Solusi yang diberikan sering tidak optimal

6. Sulit melakukan tindak lanjut.

Perbedaan bentuk media :

Tulisan

1. Tidak ada kata pengantar

2. Pertanyaan tidak spontan

3. Solusi tidak spontan

4. Jumlahnya 50 – 250 kata

5. Dilakukan 1 – 3 kali kongiz

6. Mekanisme

7. Ada daya tarik

Dialog

1. Ada kata pengantar sebelum dialog

2. Pertanyaan spontan

3. Solusinya spontan

4. Satu pertanyaan durasinya antara 1 – 5 menit

5. Dilakukan 3 – 8 kali kongiz (30-45 menit)

6. Mekanisme

7. Ada daya tarik

BIAR TUNTAS

Bersahabat

Identifikasi masalah

Analisis penyebab masalah dan potensi klien

Rekam upaya yang sudah dilakukan

Tanya harapan

Upaya solusi alternatif

Niat dan pilihan solusi

Tetapkan rencana

Anjurkan solusi yang paling sesuai

Semangati klien untuk melakukan

Sirosis Hati

Kebiasaan pasien dalam mengonsumsi minum beralkohol menyebabkan terbentuknya sirosis hati. Pecandu alkohol akan menghasilkan radikal bebas oksigen dalam tubuhnya yang akan meracuni sel hepatosit. Alkohol, yang dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama, juga akan menyebabkan penumpukan trigliserida atau asam lemak dalam sel hati sehingga memicu terjadinya proses perlemakan hati. Hal tersebut disebabkan karena tubuh lebih memilih menggunakan alkohol, yang merupakan salah satu bentuk karbohidrat sederhana, sebagai bahan bakar pembentukan energi daripada menggunakan asam lemak karena lebih efisien untuk dimetabolisme menghasilkan energi. Alhasil, asam lemak pun menjadi menumpuk di dalam sel – sel hati. Selain itu, produk akhir dari alkohol, yaitu asetaldehid, akan menghambat proses fosforilasi oksidatif asam lemak dalam mitokondria sel hati sehingga asam lemak atau trigliserida akan terperangkap dalam sel hati dan mempercepat proses terjadinya perlemakan hati (Corwin 2008).

Bila pada tahap perlemakan hati ini pasien masih mengonsumsi alkohol secara terus menerus, maka perlemakan hati tersebut akan berkembang menjadi peradangan hati atau dikenal dengan istilah hepatitis alkohol. Konsumsi alkohol secara terus menerus setelah fase perlemakan hati akan menyebabkan asetaldehid sebagai produk akhir dari metabolisme alkohol dan juga ion hidrogen semakin menumpuk dalam tubuh dan meracuni sel – sel hati. Hal tersebut memicu terjadi infiltrasi neutrofil sel hati serta nekrosis dengan adanya sekresi sitokin tumor necrosis factor alpha (α-TNF) sehingga memicu kematian sel hati secara terprogram (apoptosis) yang mengakibatkan menghilangnya sebagian sel – sel hati. Sel – sel hati yang mati akan digantikan dengan jaringan fibrosis dan membentuk jaringan parut yang melingkar atau melilit disekitar hepatosit yang masih ada. Peradangan hati pun terjadi, ditandai dengan peningkatan bilirubin yang ditunjukan dengan warna sklera mata menjadi sedikit kekuningan (jaundice) (Corwin 2008). 

Peradangan hati atau hepatitis alkohol akan berkembang menjadi sirosis hati, yang merupakan tahap akhir kerusakan sel – sel hati. Hati akan mengalami pembengkakan atau edema interstisium dan menyebabkan retensi terhadap aliran darah melalui hati serta kolapsnya pembuluh – pembuluh darah kecil yang akan mengakibatkan terbentuknya asites di perut dan hipertensi porta. Hipertensi porta akan mengakibatkan gangguan pada fungsi hematologi, yang ditandai dengan adanya anemia pada pasien sirosis hati, dan dapat berkembang menjadi hipertensi sistemik. Hipertensi porta juga dapat mengakibatkan pecahnya vena esofagus yang akan memunculkan kaput medusae (Corwin 2008).

Di sisi lain, penderita juga mengalami kurang gizi, dilihat dari IMT pasien kurang dari normal atau sekitar 16,9 kg/m2. Gizi kurang dapat merangsang hati untuk melakukan glukoneogenesis secara berlebihan. Glukoeneogenesis secara berlebih akan menyebabkan protein dalam tubuh terkatabolisme dan memicu terjadinya hipoalbuminemia. Hipoalbuminemia merupakan suatu keadaan dimana kadar albumin dalam darah berada dibawah kondisi normalnya, atau kurang dari 4 g/dl. Kurangnya albumin dalam darah akan menyebabkan penurunan tekanan onkotik dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan cairan dalam plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah ke rongga perut dan memperparah kondisi asites pasien (Corwin 2008).

Gizi kurang dikombinasikan dengan defisiensi asam empedu akan menyebabkan terjadinya diare yang disertai dengan steatorea. Asam empedu yang diproduksi oleh hati akan menurun jumlahnya ketika faal hati juga menurun akibat retensi terhadap aliran darah  yang melalui hati. Padahal, asam empedu berperan dalam proses pencernaan lemak dengan membantu menyatukan air dengan lemak untuk membentuk misel sehingga bisa diserap oleh duodenum. Oleh karena itu, bila terjadi defisiensi asam empedu akan berakibat pula pada penurunan penyerapan lemak dalam usus. Hal tersebut mengakibatkan lemak akan terbuang bersama – sama dengan feses (steatorea) (Corwin 2008; Suharjo 2009).

 

Referensi :

Corwin, Elizabeth J. 2008. Buku Saku Patofisiologi Edisi Ketiga. Jakarta : Gramedia

Suharjo, JB. 2009. Batu Empedu. Yogyakarta : Kanisius

Komunikasi Antar Pasangan

Terkadang orang yang paling kamu cintai justru orang itulah yang menyakitimu dengan teramat dalam. Itu karena semua rasa kecewa yang tersimpan dalam dadamu sama besarnya dengan rasa cintamu untuk dia. Tidak masalah bukan, cinta memang seperti itu, seperti salah satu slogan yang sempat saya lihat di salah satu stasiun TV swasta, cinta itu ibarat Lemon Tea, terasa asam dan manis bersamaan. Kombinasi rasa asam dan manis itu ternyata menghasilkan cita rasa yang luar biasa, bahkan tidak sedikit orang yang suka dengan kombinasi tersebut.

Sama halnya dengan cinta, kalau cinta itu selalu manis, lama – lama kita yang merasakannya juga akan “eneg” dan bosan. Ibarat kata, kebanyakan makan gula juga membuat kita jadi eneg atau lebih parahnya jadi Diabetes. Tapi, kalau cinta itu selalu terasa asam, tentunya tidak akan ada yang kuat juga terus menjalaninya. Perumpamaannya, dalam tubuh itu ada pH (tingkat keasaman) yang harus dijaga normal, karena bila pH tubuh terlalu rendah (terlalu asam) maka akan merusak sistem tubuh itu sendiri. Yah, lebih gampangnya lagi, ketika kamu makan makanan yang terlalu asam pun bisa menyebabkan lambungmu mengalami gangguan lalu maag, parahnya lambung bisa terluka parah sampai mungkin sulit sembuh. Ketika kita makan – makanan yang pedas, sekalipun kita sangat menyukainya, pasti sesudahnya kita cuma lelah berkeringat menahan pedas, dan tentunya masakan yang terlalu pedas itu juga tidak bisa kita nikmati.

Jadi, sudah kewajiban dan keharusan, ketika kamu memilih untuk mencintai orang lain artinya kamu sudah sungguh – sungguh siap untuk tersenyum atau menangis karena dia. Simple yah, tapi hal itu paling susah kita lakukan, saya pun begitu.

Lalu, bagaimana bila yang membuat asam suatu hubungan itu karena hal yang sama dan berulang – ulang? Pastinya jadi bosan, eneg, dan sebel juga menjalani atau sekedar berusaha mengerti.

Yah, namanya manusia itu memang gudangnya khilaf. Hal yang paling simple untuk mengurangi kekurangan yang berubah jadi khilaf itu yah cuma satu, instropeksi diri, sadari kekurangan kita, berusaha berubah, atau minimal mengakui kekurangan itu dan berusaha meminta maaf, bukan malahan “ngeles” dari kekurangan atau kesalahan itu dengan segudang alasan. Sesuatu yang salah pun, dengan alasan yang benar akan selalu salah, wong sesuatu yang benar bila disampaikan secara salah juga bisa jadi ma-salah. Saya tipikal orang yang selalu berusaha mengemukakan apa yang saya anggap benar tapi ternyata dengan cara yang salah, tapi saya selalu legowo mengakui kesalahan itu dan meminta maaf.

Terus kalau merasa sudah minta maaf tapi belum dimaafkan oleh pasangan anda apa yang harus dilakukan? Pertama, harus sadar dulu apakah cara minta maaf kita sudah benar. Misalnya saja, setelah membuat pasangan berjam – jam menunggu anda, lalu anda datang hanya berkata “Maaf ya, telat. Ngapain aja tadi disini sambil nungguin aku?” Kira – kira apa reaksi pasangan anda? Tentunya, empet. Ditambah lagi kalau anda tidak berusaha menjelaskan dulu kepada pasangan, lalu langsung memulai pembicaraan begitu saja, hmm, bila anda diposisi seperti itu pun pasti juga sebel bukan kepalang. Mungkin tergantung pasangannya yah, kalau pasangan anda tipikal orang sangat amat pemaaf berhati ikhlas dan sangat legowo, mungkin saja sekedar kata “maaf ya, telat” sudah cukup melegakan hatinya.

Kedua, mungkin anda sudah minta maaf sampai memohon – mohon tapi pasangan anda ternyata tipikal orang yang emosional dan kurang bisa menerima permintaan maaf anda, maka anda harus menunda dulu permintaan maaf anda sampai hati dia tenang. Terus bagaimana kalau dia malah makin marah karena menganggap anda tidak menyesali perbuatan anda dan cuek dengan kemarahan anda tapi kalau anda langsung minta maaf disaat dia kesal justru membuat dia makin kesal? Ya kalau kasus yang satu ini memang sulit, anda harus bersabar, dan menjelaskan sebisa anda tentang penyesalan anda tapi bukan penjelas lengkap dan berbelit, cukup yang sederhana dan mengena ke poin penting dari penjelasan tentang penyesalan anda. Selanjutnya, setelah semuanya cooling down, barulah mencoba mengkomunikasikannya lagi.

Nah, bagaimana nih kalau pasangan anda tipe orang yang kalau ngambek langsung cabut baterai handphone sampai anda kelabakan? Haha, kalau untuk poin yang ini sich saya belum menemukan penjelasan yang tepat. Ada baiknya membiarkan dulu dia yang ingin “menyendiri”, tapi untuk mengatasi kelabakan anda, hal yang paling tepat adalah menemukan tempat untuk menyatakan unek – unek anda, entah ke sahabat, ibu, saudara, atau siapapun yang anda percaya, itu sangat melegakan histeria anda. Rasa pahit yang anda telan sendiri tentu juga akan menyakiti anda, membuat anda ingin lari dan berteriak untuk melepaskan rasa itu sejauh – jauhnya. Kadang saya berpikir untuk mati saja sementara waktu, supaya tidak merasakan perasaan itu. Yah, saya punya gangguan dalam mengontrol emosi saya. Namun, saya berharap anda tidak seperti itu, tidak boleh seorang pun yang merasakan keputusasaan hingga berakhir menyakiti diri sendiri. Saya sadar sepenuhnya, tapi kadang sulit untuk mengontrol perasaan seperti itu. Mungkin yang saya perlukan adalah menghindari berbagai masalah agar tidak terjebak dalam masalah itu dan perasaan itu. Kadang masalah yang muncul pun bukan saya yang membuatnya. Untuk itu, mungkin saya harus belajar lagi untuk tetap mengontrol perasaan itu dalam keadaan apapun.

Oya,saya ingat sebait lagu Justin Timberlake  yang berjudul Mirror. Lagu itu menjelaskan tentang bagaimana sepasang kekasih itu diibaratkan seperti sebuah kaca. Anda menganggap pasangan anda egois, pastinya dalam diri andapun ada keegoisan itu. Anda berlaku A dalam kondisi B, pasangan andapun juga melakukan hal yang sama. Bila anda tidak suka, jangan lakukan hal tersebut, karena pasangan anda pasti tidak menyukainya. Bahkan sebuah artikel dari hasil penelitian menjelaskan bahwa pasangan yang sedang jatuh cinta itu punya detak jantung yang mirip, tentu saja dalam hal sikap dan perbuatan yang disukai dan tidak disukai hampir sebagian besar sama. Gampangnya, ditusuk paku itu menyakitkan buat anda, dan orang lain pun berpendapat sama, jadi jangan menusukan paku ke orang lain kalau anda pun tidak ingin orang lain menusukan paku kepada anda, pengecualian untuk master Limbad yang mungkin tidak akan merasa kesakitan.

Bukan hanya sekedar permintaan maaf, tapi bagaimana anda mengontrol rasa egois anda supaya tidak menyakiti pasangan anda. Bukan pula kesempurnaan dalam bertingkah laku, tapi bagaimana anda dan pasangan berproses untuk memperbaiki kekurangan tersebut dan sama – sama mencapai titik kebahagiaan sempurna untuk masing – masing dalam menjalani suatu hubungan.

Saya tahu, ketika anda membaca ini, mungkin anda akan langsung menunjuk saya, dan berkata saya pun tidak sempurna, tidak semua yang saya tulis disini benar – benar saya lakukan, tapi saat ini saya menyadari dan berusaha memperbaiki kesalahan dan kekurangan saya. Kalau mau mencari kekurangan saya itu sangat banyak, tapi saya mencoba memperbarui diri dan meperbaiki kekurangan saya, meskipun belum sempurna.
Saya pun berharap demikian bagi siapa saja yang membaca tulisan ini. Sifat kekanak – kanakan bukan sesuatu yang harus diperlihara. Katakan orang lain itu kekanak – kanakan, apakah anda sudah cukup bersikap sebagai seorang dewasa dengan menekan ego anda?

Hubungan yang kuat itu dibangun dari berbagai macam hadangan dan rintangan yang hanya bisa anda lalui dengan pengertian, kepercayaan, dan komunikasi. Pengertian terhadap kondisi pasangan anda, artinya anda bisa menempatkan diri anda diposisi dia, bukan hanya bisa menyalahkan dia marah untuk ini, dia salah karena dia seperti itu, tapi posisikan diri anda bila anda jadi dia menerima perlakuan seperti itu, apakah anda senang, atau bila anda diposisi dia dalam kondisi yang sama akankah anda bisa berlaku lebih baik dari apa yang dia lakukan.

Kepercayaan, percaya kepada pasangan bahwa cinta dalam dirinya hanya akan menuntunnya untuk kebaikan anda bukan untuk menjatuhkan anda, bukan untuk menyumpah serapah anda, bukan pula mencoba mencari kelemahan anda dengan memberi kritik atau saran. Bukankah cinta itu saling membangun? Bukankah bila anda pun melihat pasangan anda dalam kondisi buruk, karena rasa sayang anda kepada dia, tentu anda akan melakukan sesuatu agar dia jadi lebih baik? Ketika anda tidak percaya lagi dia mampu berbuat baik kepada anda, anda sedang tidak percaya kepada cintanya, dan ragukan juga diri anda sendiri dengan kadar cinta yang anda miliki mungkin saja juga berpikir buruk agar pasangan anda demikian seperti tuduhan anda saat sedang emosi pada pasangan.

Komunikasi, ketika ada masalah lebih baik dikomunikasikan hari itu juga, berikan penjelasan, mungkin itu yang pasangan anda hanya ingin dengar. Jika anda tidak berusaha menjelaskan justru berargumen untuk berusaha tidak terlihat sebagai penyebab masalah, yang ada masalah itu tidak akan selesai, dan itu artinya anda masih bersikap egois, ingin menang sendiri serta tidak mau salah. Egois itu penghambat komunikasi, artinya penghambat hubungan anda, apalagi bila kadarnya diatas normal. Masalah itu ada karena kesalahan dua pihak, ketika salah satu sudah terbuka untuk membicarakannya, kenapa tidak memberikan kesempatan pada hubungan anda untuk menjadi lebih baik dengan mengomunikasikan keinginan anda dan pasangan. Bila anda semakin lama menunda membahas masalah, masalah itu hanya akan menjadi semakin besar apalagi dengan adanya kesimpangsiuran yang tertunda akan menyebabkan bom waktu dan prasangka buruk yang muncul semakin menumpuk.

Warna Daging & Warna Cinta Manusia

Sumber : http://us.123rf.com/400wm/400/400/greggr/greggr1211/greggr121101044/16499435-fresh-meat-on-wood-with-sliced-pepper.jpg

Well, sekarang saya akan menulis tentang fakta unik chemical characteristic of meat dan filosofinya dalam kehidupan nyata kita semua. Sebenarnya, tulisan ini terinspirasi dari kuliah Karakteristik Bahan Pangan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan atau yang biasa disingkat ITP, pada hari Selasa (7/3) kemarin.

Langsung saja yah…

Tahukah teman – teman mengapa daging yang baru dipotong atau dibelah memiliki warna merah yang cerah tapi bila didiamkan terlalu lama akan mulai mengalami perubahan warna,mulai dari kecoklatan kemudian menghitam? Yah, itu karena adanya kandungan zat yang bernama myoglobin, kalau pada manusia kita kenal dengan nama hemoglobin, sesuatu yang selalu diukur ketika teman – teman mengalami anemia.

Seperti hemoglobin, myoglobin terdiri dari protein bernama globin dan mineral logam ditengahnya yang bernama Fe atau zat besi. Nah, Fe ini memiliki sifat yang sangat reaktif, ibarat kata sangat agresif, terutama dalam mengikat oksigen, yah karena memang itu fungsi utamanya juga. Saat pertama kali Fe dan oksigen ini bereaksi, mereka akan membentuk komplek yang bernama oksimyoglobin dan menimbulkan warna merah cerah. Namun, ketika direaksikan terlalu lama dengan oksigen maka Fe akan mengalami oksidasi berlebihan dan berubah menjadi metmyoglobin yang selanjutnya akan membentuk warna dari kecoklatan menjadi kebiruan lalu menghitam. Lalu, apa hubungannya dengan filosofi kehidupan manusia? Kira – kira waktu pertama kali Fe dan oksigen itu bersentuhan saat daging dibelah dan menyentuh udara, itu mirip dengan saat pertama kali kita bertemu dengan pasangan, cem – ceman, gebetan atau apapun deh istilahnya. Pastinya saat itu rona merah diwajah kita masih sesegar warna myoglobin yang berikatan dengan oksigen. Tapi, semakin lama berhubungan maka senyum pertama yang dulu kita berikan saat bertemu kekasih akan luntur seperti warna daging yang semula merah menjadi hitam.

Diindustri pangan sendiri untuk menjaga kestabilan warna merah dari daging tersebut, maka pada produk olahan daging, seperti sosis, dilakukan penambahan NO (Nitrogen Oksida). Sama halnya yang harus kita lakukan untuk menjaga kestabilan hubungan kita dengan pasangan, hanya bisa dilakukan dengan NO alias Nikah Only! Dengan demikian, mudah – mudahan cinta kita dengan pasangan selalu merah cerah, jangan sampai berwarna gelap seperti daging yang mulai membusuk karena oksidasi.

Betapa banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari ilmu pengetahuan, science is reflection of human characteristics too.

Sumber : http://primetime.unrealitytv.co.uk/wp-content/uploads/2012/10/fresh-meat-1.jpg