Sabar itu nikmat

Bismillahirrohmanirohim.

Ini tulisan pertama saya sebagai seorang mualaf. Saya belum juga bisa sholat, pun membaca alquran, tapi kasih Allah tetap mengalir dengan derasnya sama seperti yang Ia curahkan kepada umatNya yang lain. Ada saat mata ini menangis, hati ini teriris, mulut ini berkeluh kesah, tapi satu yang saya tahu Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk menganjar semua air mata yang terbuang dalam kesabaran dan ketabahan.

Hari ini tak hentinya hati ini terluka, mata ini berkali-kali basah karna air mata. Kerasnya kehidupan dan permasalahan orang dewasa membuat aku ingin berlari. Tapi banyak hal Tuhan kirimkan untuk mengingatkanku bahwa masalah ada untuk saya cari solusinya bukan dihindari. Setidaknya ketika ada masalah yang kamu tak tahu harus bagaimana menghadapinya, maka bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah. Lakukan apapun yang baik walau dibalas dengan sesuatu yang menyakitkan. Percayalah sinar itu tidak mungkin tertutup oleh kegelapan walau hanya setitik ukurannya. Bintang di langit tetap bersinar walau kecil ukurannya dan jutaan mahluk dibumi tetap dapat menyaksikannya walau jauh jaraknya.

Hari ini saya direndahkan oleh seseorang, saya dianggap tidak berguna, tapi saya terus berusaha mengerjakan apa yang bisa saya lakukan sebaik mungkin. Suatu hari Allah akan mengangkat derajat saya atas keikhlasan dan kesabaran serta usaha keras saya untuk berjuang. Suatu hari Tuhan akan membuka mata banyak pihak bahwa saya memulai dari nol bukan untuk selamanya menjadi nol besar ataupun pecundang. Saya yakin nikmat Allah akan dicurahkan secara adil dan bijaksana. Apapun pengorbanan hari ini akan berbuah indah asalkan kita tetap berusaha dan berdoa serta bersabar dalam pengharapan kepada Allah.

Setelah mencoba ikhlas menerima kenyataan bahwa janin dalam kandunganku tidak memungkinkan lagi untuk dipertahankan, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menyetujui tindakan kuretase kepada saya. Sungguh, kehamilan pertama ini jadi ujian lahir dan batin terberat yang pernah saya lalui. Kebahagiaan akan memiliki momongan, kini berganti jadi kengerian diruang persalinan.

Hari ini, setelah menginap satu malam guna mempersiapkan diri jelang tindakan kuretase, dan menunggu kedatangan suamiku dari Jakarta ke Bangka, saya diopname dan mulai dipasang infus kepergelangan tangan saya. Meskipun sering wara-wiri di RS dan berkali-kali melihat infus, tetap saja rasa tegang dan gugup dirasakan ketika jarum infus itu ditancapkan. Dalam hati saya berfikir, ini baru infus bagaimana sakitnya dikuret? Maklum, saya sudah melihat foto proses kuretase di google.com sehingga bayangan seram itu silih berganti berseliweran dipikiran saya.

Keesokan harinya, tepat pukul 12.00 WIB, suamiku tercinta datang juga. Ah, rasanya kekuatan saya  bertambah dari 1 menjadi 100. Dengan sabar ia disisi saya, membelai rambut saya, dan mengecup kening saya guna memberikan semangat. Tak lama kemudian, suami saya menemui dokter.

Dokter masuk dan menyatakan bahwa suami saya sudah setuju dilakukan tindakan kuretase tersebut dengan pertimbangan kesehatan bagi saya. Dan lima belas menit kemudian, perawat dan dokter telah mempersiapkan diri untuk memulai induksi persalinan kepada saya guna membuka jalan lahir yang lebih lebar agar proses kuretase berjalan lancar. Saya memohon kepada dokter agar dibius total selama kuretase, dan dokter menyetujuinya.

10 menit setelah pemasangan obat, perut saya mulas dan mengeluarkan darah segar yang sangat banyak. Setelah suster masuk memeriksa, ternyata obat yang terpasang divagina saya ikut keluar bersama darah dan beberapa jaringan dirahim saya. Sebenarnya, anak dalam kandungan saya memang sudah menunjukkan keinginan untuk keluar lewat gerakan kontraksi rahim yang tak berhenti sejak satu malam sebelumnya. Jadi, tanpa obatpun persalinan itu sudah secara alami saya rasakan. Atas persetujuan dokter, suster itu kembali memasukan obat ke vagina saya dan saya tidak boleh bergerak atau mengejang ketika mulas datang. Saya diminta menunggu selama 2 jam. Rasa mulas yang familiar, karna saat kehamilan 6 minggu kontraksi seperti ini pernah saya rasakan sebagai akibat kelelahan sehingga ada ancaman keguguran.

Darah bercampur air ketuban (mungkin) mengalir deras dan membasahi seluruh pakaian saya. Gumpalan terasa keluar dari vagina saya, dan saya tidak berani memeriksanya sendiri. Suami saya terus menunggui selama berjam jam. Sambil bercanda dan tertawa, rasa sakit itu perlahan mulai saya kuasai. Suster kembali masuk dan menyatakan apabila saya mulas dan tak tertahankan saya harus segera memanggil perawat. Entah bagaimana, fase mulas yang tak tertahankan itu tak kunjung tiba, mungkin toleransi saya terhadap rasa sakit cukup tinggi atau mungkin karna suami terus menghibur saya jadi rasa sakit itu berlalu begitu saja.

Jam 17.00 WIB suster mengecek saya dan ternyata oh ternyata, janin saya sudah lahir. Saya tidak berani melihatnya, hanya sekilas menatap mata dan kakinya yang tertekuk. Air mata meleleh melihatnya. Suster menanyakan apakah saya tidak sakit saat mengeluarkan janin saya? Saya jawab tidak. Perawat segera bergegas menyiapkan proses kuret.

Saya pun berjalan ke ruang persalinan. Rasa takut mengaliri seluruh tubuh saya. Dokter menanyakan kapan terakhir kali saya makan, dan itu setengah jam sebelum masuk keruangan tersebut. Alhasil, dokter bilang saya tidak bisa dibius karna khawatir akan muntah. Bayangkan, kuret dan tanpa bius.

Perut saya dikeruk tanpa ampun, anehnya tak satupun kata sakit atau air mata keluar dari diri saya. Dokter terus meneriakan untuk rileks. Dan yang saya hanya bayangkan wajah suami saya membelai dan mencium kening saya. Rileks. Sambil berdoa, ya Allah berikanlah hamba kekuatan. Sakitnya membuat saya dingin sekujur tubuh padahal awalnya saya berkeringat. Saya pasti mengalami syok pendarahan. Tak sampai 10 menit seluruh proses itu berlalu. Lemas rasanya. Suami saya masuk kembali dan bertanya apa yang saya rasa. Saya tak mampu menjawab, menangis atau apapun. Rasanya seluruh tenaga saya habis untuk menahan sakit.

Lalu perawat bertanya apakah saya pusing, saya jawab tidak. Saya pun berjalan kembali ke ruang perawatan. Suster mengatakan bahwa saya cukup kuat fisiknya hingga melalui kuret tanpa bius, tanpa mengeluh, tanpa menangis. Padahal, saya hanya kehabisan tenaga untuk menahan sakit dan tidak mau teriakan saya mengganggu konsentrasi dokter dan proses kuret berlangsung lama. Ah, selain itu saya yakin anakku sayang tak ingin menyiksa mamanya, sehingga dia pun keluar sendiri tanpa sakit.

Begitu berat cobaan yang harus kuhadapi. Bagaimana tidak, kehilangan seorang anak yang belum lagi bisa kulihat rupanya, kubelai wajahnya, kucium pipinya. Air mata seolah tak habis menangisi kepergiannya, dan rasa bersalah menjalari seluruh pikiran dan hatiku.

Athaya Raisyauqi Azka, calon putra pertamaku. Dialah anugerah, dialah pemimpin. Yang kepadanya kuletakan seluruh cinta dan kasih yang belum pernah ku berikan kepada siapapun sebesar ini.

Malam itu, setiap tetesan darah dan sakit yang kurasa seolah memberi tahuku, ia akan pergi. Dokter memvonis “fetal death”, gerakannya tidak ada, jantungnya tidak berdetak, perkembangannya telah berhenti sejak 2 minggu yang lalu. Ya Allah, adakah berita yang lebih menyakitkan dari ini?

Hilang sudah anganku memiliki dia yang aku dambakan. Nak, mengapa engkau tinggalkan mama? Perjuangan yang kita lakukan sudah sejauh ini untukmu nak. Papa besok akan datang ingin menciummu seperti biasanya. Nak, maafkan mama, mama bukan ibu yang baik, baru 13 minggu kau dirahimku nak, tapi mama tidak bisa menjagamu dengan baik.

Tuhan, mengapa harus kau ambil malaikat kecilku? Aku berjanji menyayanginya, aku berjanji akan bekerja 2x lebih keras untuknya. Mengapa Engkau tak izinkan aku melihatnya lahir ke dunia ini dengan selamat?

Ah… Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hambaNYA.

Kuyakin anakku sedang tersenyum dan terus tumbuh dengan gagah dan tampan. Bagaimanapun, Athaya tetap anugerah bagi mama dan papa. Terima kasih telah membuat hidup mama berharga karna kehadiranmu nak. Walau kini rasanya tujuan hidup mama jadi samar. Suatu hari nanti, Atha akan menggenggam tangan mama dan papa. Saat itu, mama tidak akan pernah melepaskanmu nak. Mama sangat mencintai kamu, Athaya.

Diet bagi Penderita Leukemia

“Siapa bilang gizi tidak banyak kaitannya dengan kesehatan! Siapa bilang salah gizi tidak sama bahayanya dengan salah obat!”


 

 

Leukemia terdiri atas dua jenis, yakni Myeloid dan Lymphoblastic, yang bisa bersifat akut maupun kronik. Leukemia jenis Myeloid menyerang sumsung tulang belakang, sehingga pada penderita AML (Acute Myeloid Leukemia) maupun CML (Chronic Myeloid Leukimia) akan terjadi gangguan pembentukan sel darah, baik itu sel darah merah, sel darah putih, maupun trombosit. Kondisi tersebut memicu terjadinya kondisi anemia (kurangnya produksi sel darah merah), trombositopenia (kurangnya produksi trombosit) dan leukopenia (kurangnya produksi sel darah putih). Produksi trombosit yang rendah menyebabkan penderita rentan terhadap pendarahan. Sel darah penderita Myeloid Leukimia akan ditemukan adanya Auer Rods. Sedangkan, kondisi Lymphoblastic Leukemia, sel kanker menyerang bagian diluar sumsum tulang belakang, dan berkaitan dengan pembentuk sel beta.

Selain itu, ada pula kondisi pre-leukemia, yakni Myelodysplastics Syndrome (MDS). Myelodysplastic syndromes (MDS) merupakan gangguan pada produksi sel darah yang terjadi di sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang merupakan jaringan tipis yang terletak di tengah tulang manusia dan berfungsi untuk memproduksi sel darah. Sumsum tulang belakang penderita MDS akan memproduksi sel darah secara abnormal, dimana sel darah yang dihasilkan bersifat immature dan dalam perjalanannya sel darah tersebut akan mengalami kegagalan pematangan sehingga saat memasuki aliran darah tidak dapat berfungsi secara sempurna. Sel darah yang tidak matang atau immature tersebut dikenal dengan nama blast cell. Saat memasuki sistem peredaran darah, blast cell akan dipecah, sehingga mengakibatkan kadar sel darah penderita MDS berada dibawah normal. Sel darah yang jumlahnya dibawah normal bisa terdiri atas satu jenis sel darah saja atau bisa pula terdiri atas beberapa jenis sel darah. Ada tujuh tahapan atau stadium dalam MDS menurut WHO, yakni :

1. Refractory cytopenia with unilineage dysplasia (RCUD)
2. Refractory anemia with ringed sideroblasts (RARS)
3. Refractory cytopenia with multilineage dysplasia (RCMD)
4. Refractory anemia with excess blasts-1 (RAEB-1)
5. Refractory anemia with excess blasts-2 (RAEB-2)
6. Myelodysplastic syndrome, unclassified (MDS-U)
7. Myelodysplastic syndrome associated with isolated del(5q)

MDS RAEB II merupakan suatu kondisi yang menunjukan kadar sel darah penderita berada dibawah normal untuk satu atau lebih jenis sel darah dan produksinya di sumsum tulang belakang juga tampak tidak normal. Penderita MDS RAEB II memproduksi 10 – 20% lebih banyak blast cell di sumsum tulang dibandingkan penderita MDS RAEB I. Sekitar 5 hingga 19% sel darah yang diproduksi penderita MDS RAEB II merupakan blast cell dan blast cell kemungkinan berisi Auer Rods (gumpalan material granular azurophilic yang membentuk jarum memanjang terlihat dalam sitoplasma blast leukemia). Penderita MDS RAEB II beresiko 50% lebih besar untuk berkembang menjadi AML (Sanz et al. 1989).

Resiko MDS tinggi pada orang yang sering terpapar zat kimia, rokok dan juga radiasi. Pada pasien kanker yang menjalani penyembuhan dengan metode radiasi biasanya beberapa tahun kemudian akan terserang MDS. Hal tersebut dinamakan MDS sekunder atau MDS terkait pengobatan.

Myelodysplastic syndrome (MDS) mengacu pada sekelompok gangguan heterogen yang berkaitan erat dengan gangguan hematopoietik klonal. MDS ditandai dengan hypercellular atau hiposeluler sumsum dengan gangguan morfologi dan pematangan (dysmyelopoiesis) serta cytopenias darah perifer, akibat produksi sel darah tidak efektif. Semua jenis sel darah dalam hematopoiesis myeloid dapat terlibat, termasuk eritrosit, granulosit, dan baris sel megakaryocytic. Meskipun klonal, MDS dianggap sebagai kondisi premalignant dalam subkelompok pasien yang sering berkembang menjadi akut leukemia myelogenous (AML) ketika kelainan genetik tambahan diperoleh (Sanz et al. 1989).

Pada sindrom myelodisplastic, sumsum tulang belakang lebih banyak memproduksi sel blast atau sel darah yang belum matang. Blast tidak dapat berfungsi layaknya sel darah normal sehingga ketika memasuki peredaran darah sel blast akan dihancurkan. Seluruh sel tubuh mahluk hidup mengandung DNA dan RNA, dimana ketika terjadi perombakan sel maka basa purin yang terkandung dalam DNA dan RNA sel tersebut akan menghasilkan produk akhir yang dikenal dengan nama asam urat. Peningkatan jumlah sel blast yang dirombak pada penderita leukimia berakibat pula pada peningkatan asam urat dalam darah. Selain itu, kemoterapi yang menyebabkan kerusakan sel, baik pada sel kanker maupun sel normal, akan menyebabkan peningkatan kadar asam urat sebagai manifestasi akhirnya (Hurst 2008).

Diet Leukemia

Berdasarkan penjelasan diatas, diketahui bahwa kanker darah pun bisa menyebabkan berbagai gangguan lain, baik anemia hingga asam urat, sehingga pada intervensi gizi yang hendak direncanakan bagi penderita kanker darah ini tidak semata – mata hanya mementingkan kondisi kankernya saja, namun juga mempertimbangkan adanya kemungkinan efek lain yang akan timbul terkait penyakit tersebut. Pada prinsipnya, penderita kanker harus menjalani diet Tinggi Energi dan Tinggi Protein, hal ini guna mengimbangi kebutuhan energi dan protein yang juga ikut meningkat seiring adanya perkembangan kanker dalam tubuh. Sel kanker ibarat suatu parasit dalam tubuh, ia akan menyedot dan menggunakan zat – zat gizi yang seharusnya untuk kebutuhan tubuh secara normal. Zat –  zat gizi tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan sel kanker itu sendiri, sehingga apabila asupan zat gizi penderita kanker kurang, sel – sel kanker tersebut akan menggunakan cadangan energi dan protein dalam tubuh dan lambat laun menyebabkan penurunan berat badan hingga kondisi kurang gizi atau disebut kaheksia.

Berbicara tentang leukimia, seperti yang dijelaskan sebelumnya, penyakit yang satu ini bisa membuat penderitanya mengalami peningkatan asam urat, meskipun belum tentu akan berkembang dan menimbulkan gejala Gout. Meski demikian, kondisi tersebut tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Untuk mencegah peningkatan asam urat yang berlebihan, penderita leukimia akan diberikan obat alupurinol guna menurunkan asam uratnya, namun ada baiknya hal tersebut juga didukung dengan diet rendah purin guna mendukung efek obat. Diet rendah purin mengharuskan penderita leukemia membatasi konsumsi makanan berpurin sedang hingga tinggi, misalnya tahu tempe, sayuran berdaun hijau, makanan laut, kacang – kacangan, dan juga jeroan.

Ada satu lagi yang khas dari diet bagi penderita leukimia, yakni adanya pembatasan asam folat. Penggunaan folat masih dipertentangkan dalam kasus leukimia, baik jenis lymphoblastik maupun myeloid leukimia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan perkembangan kanker, sementara pada populasi lain, defisiensi asam folat justru bisa menghambat perkembangan kanker. Penelitian yang dilakukan Koury et al. (1997) menemukan bahwa defisiensi asam folat justru bisa mempercepat perkembangan menuju AML (Acute Myeloid Leukimia) terutama pada pasien yang berisiko tinggi mengidap penyakit ini. Namun, hal bertentang ditemukan oleh Sydney Farber pada tahun 1948. Beliau melihat bahwa suplementasi asam folat pada anak – anak penderita Anemia Perniciousa karena kekurangan vitamin B12 dapat diatasi dengan pemberian asam folat. Asam folat dapat membantu mengurangi produksi blast pada penderita Anemia Perniciousa. Kemiripan gejala antara Anemia Perniciousa dengan leukimia dalam hal produksi blast membuat Farber mencoba untuk menggunakan terapi asam folat pada pasien anak pengidap ALL (Acute Lymphoblastic Leukimia). Hasil mengejutkan ditemukan bahwa pasien anak tersebut justru semakin bertambah parah dengan pemberian suplementasi asam folat. Hal tersebut kemudian membawa pengobatan leukimia ke era baru dimana kemoterapi bagi penderita leukimia dilakukan dengan pemberian antifolat, aminopterin.
Penelitian terkait asam folat dengan perkembangan kanker belum sepenuhnya jelas. Pada penderita kanker kolorektal, suplementasi folat dapat menurunkan proliferasi adenoma dan kemungkinan dapat mencegah munculnya adenoma di masa depan. Penelitian Young In Kim pada tahun 2008 menyimpulkan bahwa pada jaringan normal asam folat dapat mencegah dan menghambat timbulnya sel neoplastik, namun pada kondisi preneoplastik dan neoplastik, asam folat akan mendorong proliferasi lesi kanker. Oleh karena itu, pemberian suplemen asam folat tidak direkomendasikan sebagai kemopreventif.
Sumber bahan makanan yang mengandung sedikit sekali asam folat adalah daging (secara umum), susu, telur, buah – buahan dan umbi. Bahan makanan yang mengandung folat dalam jumlah tinggi adalah kacang – kacangan, daun – daunan berwarna hijau (folat berasal dari bahasa latin “folium” berarti daun), seperti bayam, asparagus dan brokoli. Pemasakan dengan temperatur tinggi dapat menurunkan kadar folat, misalnya susu bubuk memiliki kadar folat yang lebih kecil dibandingkan dengan susu cair, karena pemanasan dapat merusak asam folat (Piliang dan Soewondo 2006).

Referensi :

Hurst Marlene. 2008. Pathophysiology Reviews. US : Mc Graw Hill.

Koury MJ, Park DJ, Martincic D, Horne DW, Kravtsov V, Whitlock JA, del Pilar Aguinaga M, dan Kopsombut P. 1997. Folate deficiency delays the onset but increases the incidence of leukemia in Friend virus-infected mice. Blood 90(10) : 4054 – 4061.

Sanz GF, Sanz MA, Vallespi T et al. 1989.Two regression models and a scoring system for predicting survival and planning treatment in myelodysplastic syndromes: a multivariate analysis on prognostic factors in 370 patients. Blood 74 : 395 – 408

Young In Kim. 2008. Folic Acid Supplementation and Cancer Risk: Point. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 17: 2220.

Piliang Wiranda G & Soewondo Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume II. Bogor : IPB Press.

 

Tumor Jinak VS Tumor Ganas

Persiapan menuju ID (Internship Dietetik) alias magang di Rumah Sakit dimulai dengan mencari – cari info tentang berbagai penyakit, khususnya kanker, yang akan banyak ditemui di Rumah Sakit Kanker Dharmais, lokasi ID saya selama 3 minggu. Oke, ini sedikit info yang berhasil saya dapatkan dari “iseng – iseng” membaca buku tentang penyakit dalam karangan Sholeh S. Naga (2012).

Normalnya, tubuh manusia akan melakukan pembelahan sel melalui mekanisme mitosis untuk menggantikan sel – sel tubuh yang rusak. Tujuan dari pembelahan itu sendiri adalah untuk mempertahankan jumlah sel yang ada dalam tubuh manusia. Sayangnya, apabila pembelahan sel yang terjadi tanpa tujuan yang jelas dan jumlahnya menjadi sangat banyak hingga tak terkendali akan menimbulkan tumor. Di semester awal, saya sempat mendapat ilmu bahwa tumor itu dalam istilah kedokteran untuk benjolan. Kadang – kadang infeksi juga bisa menyebabkan “tumor” , misalnya saja bisul atau jerawat, karna itu merupakan bagian dari mekanisme imunitas tubuh melawan serangan benda – benda asing. Oleh karna itu, tumor itu bisa bersifat jinak (benigna) maupun ganas (maligna).

Tumor ganas merupakan pemicu kanker. Dikatakan ganas karena pembelahan sel dalam kasus tumor ganas sangat banyak hingga tak terhingga, dan tentunya tanpa tujuan yang jelas, sehingga akan membentuk suatu struktur tertentu (seperti benjolan dan menambah massa tumor) atau bisa juga tidak (misalnya pada kasus karsinoma anaplastik a.k.a kanker kulit). Bahayanya lagi, tumor ganas alias kanker memiliki kemampuan untuk menginvasi jaringan disekitarnya maupun jaringan yang jauh dari habitatnya (melalui mekanisme metastasis) sehingga menimbulkan kerusakan pada sel yang sehat. Tidak tanggung – tanggung, sel kanker pun bahkan tidak segan merusak jaringan pembuluh darahnya sendiri yang notabenenya bertugas memberi asupan gizi ke sel kanker tersebut. Kemampuan sel kanker menembus dinding sel pembuluh darah dan limfa sehingga ikut aliran darah atau limfa ke tempat yang jauh dari asal tumbuhnya disebut metastasis. Selain itu, sel kanker juga memliki kemampuan untuk menginfiltrasi ke dalam sel – sel sehat dan bernaung diantara sel – sel tersebut, sehingga ketika dilakukan operasi pengangkatan tumor, sel – sel kanker yang berhasil menginfiltrasi atau masuk ke dalam sel – sel sehat kemungkinan akan tertinggal dan dapat tumbuh lagi sesudah operasi. Hal tersebut dikenal dengan istilah rekurent lokal, inilah biang kerok yang menyebabkan gagalnya operasi tumor ganas. 

Berbeda dengan tumor ganas, tumor jinak tidak memiliki kemampuan untuk menginvasi ataupun menginfiltrasi ke sel sehat. Tumor jinak biasanya diselubungi oleh semacam kapsul yang tersusun atas jaringan ikat yang sangat kuat, sehingga sel tumor jinak tersebut tidak bisa menyebar kemana – mana, karena tidak punya kemampuan masuk ke aliran darah dan limfe alias tidak bisa bermetastasis. Biasanya pada tindakan operasi bedah, dokter akan berusak merobek jaringan ikat tersebut dan mengeluarkan sel tumor yang bernaung didalamnya. Meskipun tidak punya kemampuan invasi, metastais maupun infiltrasi, tetap saja tumor jinak tidak bisa dikatakan tidak berbahaya. Apabila sel tumor jinak tumbuh dan membesar di daerah organ vital, sebut saja jantung, tentunya bisa membahayakan nyawa.

Kanker atau tumor ganas memiliki banyak macam, dikutip dari http://www.dharmais.co.id jenis kanker mencapai hingga lebih dari 100 macam. Namun untuk penamaannya, tumor ganas dinamakan sesuai dengan jaringan asalnya, misalnya tumor dari jaringan epitel dinamakan karsinoma, dari jaringan ikat dinamakan sarkoma sementara dari kelenjar limfa dinamakan limfoma. Kadang – kadang sel kanker tumbuh dan berkembangbiak (berproliferasi) tanpa mengubah struktur inangnya, misalnya pada kanker pankreas masih terlihat sel kanker membentuk saluran atau duktus yang berisi sekreta, dan kanker tersebut dinamakan adenokarsinoma. Atau pada kanker kulit, sel kanker yang terbentuk berupa sel pipih gepeng yang berproliferasi tanpa membentuk struktur tertentu yang terlihat jelas, namun jenis kanker ini lebih berbahaya dan progresif.

Apapun jenisnya, tumor atau benjolan yang tumbuh diorgan tubuh lebih dari satu bulan dan tidak menghilang juga sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk dilakukan biopsi agar kita bisa mengetahui apakah itu jenis tumor jinak atau ganas, atau hanya tumor akibat peradangan sebagai reaksi imunitas alami tubuh melawan infeksi. Be aware with your body! =)

Referensi :

http://www.dharmais.co.id

Naga, Sholeh S. 2012. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Diva Press : Jakarta

Konsultasi Gizi

Konsultasi Gizi menurut Robert Lee dan David Nieman merupakan proses diagnosa dan intepretasi permasalahan gizi yang dialami klien serta merekomendasikan alternatif penyelesaian masalah tersebut.

Konsultasi Gizi menurut Prof. Hardinsyah merupakan ilmu dan seni dalam memberikan pelayanan secara profesional kepada klien yang memiliki masalah gizi dan gangguan makan guna mencari alternatif pemecahan masalah tersebut sesuai dengan harapan dan keunikan klien.

Konsultasi Gizi sendiri bisa diartikan sebagai kegiatan dialog profesional dalam setting pribadi untuk memperoleh pendapatan dan saran solusi masalah gizi.

Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan konsultasi gizi dalam istilah “Konsultasi” dan “Konseling”.

Konsultasi merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa kegiatan untuk memperoleh pendapat dan saran berasal dari permintaan klien, sehingga pendekatan ini bisa disebut sebagai bagian dari perspektif klien.

Konseling merupakan suatu pendekatan yang memandang bahwa kegiatan untuk memperoleh pendapat dan saran berasal dari cara pandang konselor.

Konselor adalah orang yang secara profesional mampu memberikan saran dan pendapat. Oleh karena itu, pendekatan ini bisa digunakan dalam perspektif pihak yang memberikan pelayanan atau konselor.

Klien sendiri merupakan seseorang membutuhkan pendapat dan saran dari konsultan atau konselor.

Mengapa konsultasi gizi menjadi penting untuk dilakukan?

1. Berkembangnya IPTEK terkait gizi belum tentu dapat dipahami oleh semua orang, sehingga sebagai bagian dari etik seorang ahli gizi perlu melakukan penyebaran informasi terkait perkembangan IPTEK gizi agar bisa diterapkan oleh semua orang demi kemaslahatan masyarakat.

2. Setiap individu bersifat unik dan memiliki masalah gizi yang bervariasi sehingga memerlukan solusi pemecahan masalah gizi yang bersifat individual. Solusi tersebut bisa diperoleh melalui konsultasi gizi, tentunya secara individu.

3. Peningkatan demand akan pentingnya gizi serta menguatnya kebijakan Paradigma Sehat meningkatkan kebutuhan dan permintaan akan informasi terkait gizi dan kesehatan, sehingga demand penyelenggaraan konsultasi gizi pun ikut meningkat.

4. Pergeseran tren penyakit dari infeksi ke penyakit non-infeksi, yang disebabkan oleh perilaku makan dan gaya hidup, ikut mendorong peningkatan demand penyelenggaraan konsultasi gizi.

5. Kondisi ekonomi yang membaik serta kemudahan akses informasi membuat masyarakat meningkatkan permintaan untuk mendapatkan informasi gizi melalui jasa konsultasi gizi di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

6. Melihat dari analogi perkembangan praktek dokter keluarga di daerah perkotaan, bukan tidak mungkin di masa depan keluarga di perkotaan juga akan memilih melakukan konsultasi gizi agar riwayat gizi setiap anggota keluarga bisa didokumentasikan dengan baik.

Apa saja komponen konsultasi gizi?

Ada enam komponen utama dalam penyelenggaraan konsultasi gizi, yaitu klien, konsultan, komunikasi, waktu, pelayanan+sarana+acuan, serta masalah dan solusinya.

Klien

1. Mempunyai masalah

2. Memiliki harapan

3. Mempunyai kesempatan

4. Perlu dukungan akses

Konsultan

1. Penguasaan ilmu

2. Keterampilan

3. Kepribadian

4. Penampilan

Komunikasi

1. Prolog – (Apresiasi)

2. Memahami masalah

3. Memahami harapan

4. Mendengarkan

5. Memberi kesempatan

6. Memberi tanggapan

7. Memberi solusi

8. Epilog – (Apresiasi)

Waktu

Biasanya konsultasi gizi dilakukan antara 5 – 30 menit (terdiri dari prolog hingga epilog) tergantung masalahnya. Harus diatur pula cara melakukan appointment dan jadwal untuk melakukan konsultasi gizi.

Pelayanan

1. Kenyamanan

2. Keramahan

3. Kecepatan

4. Ketepatan

5. Keberlanjutan

6. Imbalan

7. Bonus

8. Promosi

Sarana

1. Tempat dan suasana

2. Acuan

3. Alat hitung

4. Alat ukur

5. Alat atau media komunikasi

Acuan

1. Pengukuran

2. Penilaian (CoP)

3. Kemungkinan sebab – akibat

4. Akibat kekurangan dan kelebihan zat gizi

5. Pangan sumber zat gizi

6. Diet

7. FAQ

Masalah

1. Masalah Utama

2. Masalah Penyerta

3. Kategori masalah

4. Faktor risiko

Solusi

1. Solusi Utama

2. Solusi Penyerta

3. Perencanaan

4. Motivasi

Prinsip – prinsip utama dalam melakukan konsultasi gizi

Prinsip pelayanan terpusat klien

a. Hubungan antara konsultan dan klien digunakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya sesuai dengan harapan

b. Hubungan konsultan dengan klien tidak seperti hubungan atasan dengan bawahan (superior – inferior) namun sejajar. Klien pun tidak perlu diinstruksikan dan diberi sanksi karena pada dasarnya klien sudah memiliki kelebihan dan kebolehan, sehingga sebagai konsultan perlu untuk memperkuat atau memperkukuhnya.

c. Hubungan antara konsultan dan klien didasarkan pada dua hal, yaitu saling menghargai (respect) dan saling percaya (trust)

Prinsip memperoleh informasi

a. mempersiapkan instrumen (formulir, acuan, alat dan komputer)

b. melalui berbagai cara (membaca, bertanya, mendengar [hearing, attending, understanding, remembering/recording, evaluating and monitoring], pengamatan klinis dan/ anamnesa, metode penilaian dan pengukuran, menganalisis dan menghitung)

c. percaya pada informasi yang diberi klien

d. menjaga kerahasiaan informasi dari klien.

Prinsip memberi solusi dan motivasi

a. berbasis bukti ilmiah

b. dimulai dari alternatif

c. yang paling sesuai dengan kondisi klien

d. menghindari atau netral terhadap isu – isu kontroversial

e. menjelaskan sisi positif dan negatif dari solusi yang diberikan

f. memberikan tips atau kiat

g. membangun suasana dan kondisi agar klien termotivasi

h. memperkuat kelebihan klien (pujian)

Prinsip membina hubungan

a. menyediakan tempat dan suasana yang menyenangkan bagi klien

b. menyediakan media yang dapat memperkuat hubungan (kartu nama dan leaflet)

c. memberikan keunikan pelayanan bagi klien (via kemitraan)

d. apresiasi kedatangan

e. empati dan kehangatan konsultasi

f. mengajak ke konsultasi selanjutnya

g. mengajak ke acara – acara yang diadakan klinik (seminar atau demo)

h. menghargai dan percaya klien

Konsultasi gizi juga perlu memahami cultural competence. Sebagai profesional harus memahami efek budaya terhadap kesehatan.
Cultural Competence memerlukan 3 hal : Attitude, Knowledge an Skill.

Attitude : Hal pertama yang kita pelajari dalam budaya kita dan mempengaruhi kebiasaan kita

Knowlegde : Be cautious of generalization

Skill : mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan yang dibatasi oleh nilai budaya

Strategy for Cultural Competent Counseling :

1. Open-ended question

2. Client-centered framework of comunication

3. Openess and listening to experiences, valuing client expertise, and being sensitive to difference.

4. Considering what strenght you have to bring to the counseling situation

5. Build on them

Jenis – Jenis Konsultasi Gizi

1. Konsultasi Gizi via tatap muka

2. Konsultasi Gizi via Telepon

3. Konsultasi Gizi via Media (Radio/TV, media cetak, internet)

Konsultasi Gizi Tatap Muka

Dilakukan secara tatap muka, bisa terjadwal atau pun tidak, dan biasanya dilakukan selama 15 sampai 30 menit sesuai dengan masalahnya. Tempat prakteknya pun disetting pribadi dengan suasana yang nyaman dan menarik, namun tetap mudah diakses.

Ciri – ciri konsultasi gizi tatap muka :

1. Pendaftaran dilakukan lewat telepon atau secara langsung

2. Clinic record

3. Pengamatan klinis dan / anamnesa

4. Duduk bertatap muka dengan klien dengan dibatasi meja atau meja diletakkan disamping

5. Dialog mendalam

6. Menerapkan prinsip BIAR TUNTAS

7. Bisa dilanjutkan dengan konsultasi gizi via telepon.

Konsultasi Gizi via Telepon

Diskusi tanpa tatap muka yang dilakukan selama 5 sampai 30 menit sesuai dengan masalah, menggunakan telepon yang dilengkapi dengan recording, mudah diakses, suara bersih tidak terpolusi dan ada musik intermezzo jika layanan sibuk.

Ciri – ciri konsultasi gizi via telepon :

1. Pendaftaran dilakukan via telepon

2. Type recording

3. Dialog mendalam

4. Tidak bisa 100 persen menerapkan prinsip BIAR TUNTAS

5. Bisa dilanjutkan dengan konsultasi via tatap muka.

Konsultasi Gizi di Media

Bentuk media yang digunakan bisa media cetak dan media elektronik. Bentuk penyajiannya bisa tulisan, dialog tertutup (dari rekaman kaset di radio TV atau twitter terjadwal), dialog terbuka. Waktunya bisa berkala (media cetak berkala dan media elektronik broadcast berkala) maupun tidak berkala (media cetak berkala dan advertising, media elektronik broadcast dan non-broadcast).

Ciri – ciri konsultasi gizi di media :

1. Kesempatan (waktu dan ruang) amat terbatas

2. Sulit terlalu pribadi (penyamaran identitas)

3. Sering tidak terstruktur (pro-aktif klien)

4. Sulit menelusuri informasi klien yang tidak lengkap

5. Solusi yang diberikan sering tidak optimal

6. Sulit melakukan tindak lanjut.

Perbedaan bentuk media :

Tulisan

1. Tidak ada kata pengantar

2. Pertanyaan tidak spontan

3. Solusi tidak spontan

4. Jumlahnya 50 – 250 kata

5. Dilakukan 1 – 3 kali kongiz

6. Mekanisme

7. Ada daya tarik

Dialog

1. Ada kata pengantar sebelum dialog

2. Pertanyaan spontan

3. Solusinya spontan

4. Satu pertanyaan durasinya antara 1 – 5 menit

5. Dilakukan 3 – 8 kali kongiz (30-45 menit)

6. Mekanisme

7. Ada daya tarik

BIAR TUNTAS

Bersahabat

Identifikasi masalah

Analisis penyebab masalah dan potensi klien

Rekam upaya yang sudah dilakukan

Tanya harapan

Upaya solusi alternatif

Niat dan pilihan solusi

Tetapkan rencana

Anjurkan solusi yang paling sesuai

Semangati klien untuk melakukan